Tiga Poros Utama Mengemuka di Bursa Calon Ketua Umum PBNU

JAKARTA — Bursa calon Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) semakin menghangat menjelang Muktamar ke-35 NU yang akan digelar di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, Jawa Timur, pada 27–31 Agustus 2026.

Sejumlah nama mulai mencuat dan menjadi perbincangan di kalangan Nahdliyin. Dari sekitar 15 tokoh yang sempat disebut dalam berbagai pembicaraan, nama-nama tersebut disebut mengerucut menjadi tujuh kandidat utama.

Berdasarkan pemetaan visi dan rekam jejak, tujuh tokoh tersebut terbagi ke dalam tiga poros utama.

Poros Struktural Berkesinambungan

Poros pertama diisi oleh Ketua Umum PBNU saat ini, KH Yahya Cholil Staquf atau Gus Yahya, serta Prof. KH Nasaruddin Umar.

Gus Yahya telah menyatakan niatnya untuk kembali maju memimpin PBNU. Sebagai petahana, ia membawa gagasan keberlanjutan organisasi dengan penekanan pada kemandirian NU.

Visi yang dikedepankan antara lain melanjutkan gagasan “Merawat Jagat, Membangun Peradaban”, sekaligus memperkuat posisi NU dalam diplomasi global dan penyelesaian berbagai konflik internasional.

Sementara Nasaruddin Umar yang kini menjabat Menteri Agama RI dinilai merepresentasikan perpaduan antara ulama dan teknokrat. Ia membawa narasi harmoni keumatan serta disebut mendapat dukungan dari sejumlah cabang NU di luar Pulau Jawa.

Poros Pesantren Tradisional

Poros kedua mengedepankan kekuatan pesantren dan tradisi keilmuan NU. Salah satu nama yang masuk dalam poros ini adalah KH Abdul Hakim Mahfudz.

Berita Lainnya  Truk Siba Surya Bermuatan Berat Masuk Jalur Kota, Diduga Ikuti GPS

Poros ini merepresentasikan gagasan penguatan kembali akar pesantren sebagai basis utama organisasi, sekaligus mempertahankan tradisi keulamaan dalam menentukan arah NU.

Tiga Poros, Satu Pertarungan

Peta tiga poros tersebut menunjukkan bahwa perebutan kursi Ketua Umum PBNU tidak sekadar berkaitan dengan figur, tetapi juga menyangkut arah perjalanan organisasi lima tahun ke depan.

Muktamar ke-35 NU akan menjadi arena penting untuk menentukan kepemimpinan PBNU sekaligus mempertemukan berbagai gagasan mengenai masa depan organisasi, mulai dari kesinambungan struktural, penguatan pesantren hingga arah baru kepemimpinan NU.

Dengan muktamar yang tinggal hitungan hari, dinamika dukungan terhadap para kandidat diperkirakan masih akan bergerak hingga proses pemilihan berlangsung.