Sorotpost – Konflik yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran sejak awal 2026 mulai berdampak pada distribusi berbagai komoditas global, termasuk produk kesehatan seperti kondom. Gangguan jalur logistik dan kenaikan biaya bahan baku membuat produsen kesulitan menjaga stabilitas produksi.
Produsen kondom terbesar dunia, Karex, mengungkapkan bahwa pihaknya berencana menaikkan harga jual produk hingga 20 hingga 30 persen. Kenaikan ini dipicu oleh melonjaknya biaya produksi serta distribusi yang terdampak situasi geopolitik.
Chief Executive Officer Karex, Goh Miah Kiat, menyatakan bahwa kondisi global saat ini membuat rantai pasok menjadi tidak stabil.
“Kami menghadapi tekanan biaya yang signifikan, mulai dari bahan baku hingga logistik. Situasi ini tidak bisa dihindari dan berdampak langsung pada harga produk,” ujarnya.
Selain itu, waktu pengiriman produk juga mengalami keterlambatan signifikan. Jika sebelumnya distribusi bisa dilakukan dalam waktu singkat, kini pengiriman bisa memakan waktu hingga dua bulan akibat hambatan di jalur pelayaran internasional.
Di sisi lain, permintaan terhadap kondom justru mengalami peningkatan. Data menunjukkan adanya kenaikan permintaan global hingga sekitar 30 persen. Kondisi ini semakin memperparah ketidakseimbangan antara pasokan dan kebutuhan pasar.
“Kami melihat permintaan meningkat cukup tajam, sementara pengiriman barang mengalami keterlambatan. Ini menyebabkan tekanan pada ketersediaan stok di berbagai negara,” tambah Goh.
Negara-negara berkembang disebut menjadi pihak yang paling terdampak karena ketergantungan pada impor produk tersebut. Jika kondisi ini terus berlanjut, dikhawatirkan akan terjadi kelangkaan yang lebih luas di pasar global.
Kondisi ini menjadi contoh nyata bagaimana konflik geopolitik dapat memicu efek domino hingga ke kebutuhan sehari-hari masyarakat. Tidak hanya sektor energi dan pangan, produk kesehatan pun ikut terdampak akibat terganggunya rantai pasok global.















