Kadis Pendidikan Muaro Jambi Angkat Bicara: SDN 232 Terhambat Wilayah, Muaro jambi Kurang 779 Guru

Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Muaro Jambi, Kaspul Iman

Muaro Jambi – Kondisi memprihatinkan masih membayangi dunia pendidikan di Kabupaten Muaro Jambi. Salah satunya terjadi di SD Negeri 232 yang berada di Desa Tanjung Lebar, Kecamatan Bahar Selatan.

Sekolah ini harus menjalankan proses belajar mengajar di bangunan yang jauh dari kata layak. Sejumlah ruang kelas masih berdinding kayu yang telah lapuk, sementara atap seng yang bocor kerap membuat ruangan tergenang air saat hujan turun.

Keterbatasan ruang juga memaksa pihak sekolah berbagi gedung dengan jenjang SMP. Akibatnya, kegiatan belajar dilakukan secara bergantian. Siswa SD belajar pada pagi hari, sementara siswa SMP masuk siang hingga sore.

Tercatat, terdapat 126 siswa yang terdiri dari 103 siswa SD dan 23 siswa SMP yang harus belajar dalam kondisi serba terbatas tersebut.

Kondisi ini semakin berat dengan minimnya tenaga pengajar. Saat ini, hanya tersedia 5 guru untuk tingkat SD dan 2 guru untuk SMP, sehingga para guru harus mengajar beberapa kelas sekaligus.

Salah seorang guru, Harminah, mengungkapkan bahwa kondisi tersebut sangat memengaruhi proses belajar mengajar.

> “Kalau hujan, kami sering kebocoran. Anak-anak jadi tidak nyaman belajar. Kadang kami harus pindah-pindah kelas,” ujarnya.

Ia juga menyebut keterbatasan guru membuat mereka harus bekerja ekstra.

> “Guru di sini terbatas, jadi kami harus mengajar beberapa kealigus. Yang penting anak-anak tetap b belajar,” tambahnya

Kadis Pendidikan Angkat Bicara

Menanggapi kondisi tersebut, Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Muaro Jambi, Kaspul Iman, menjelaskan bahwa persoalan SDN 232 tidak lepas dari kendala status wilayah.

Menurutnya, secara administrasi sekolah tersebut berada di wilayah Muaro Jambi, namun secara geografis masuk dalam kawasan Kabupaten Batanghari.

Berita Lainnya  KPK Tangkap Bupati Rejang Lebong Terkait Dugaan Fee Proyek

> “SDN 232/IX ini berada di Dusun Sungai Beruang, Desa Tanjung Lebar, Kecamatan Bahar Selatan. Secara administrasi masuk Muaro Jambi, tapi dari batas wilayah masuk ke Kabupaten Batanghari,” jelasnya.

Ia mengatakan, kondisi tersebut menjadi penghambat pihaknya dalam melakukan pembangunan maupun rehabilitasi sekolah.

> “Karena itu, kami belum bisa membangun atau merehabilitasi. Permasalahan ini masih dalam pembahasan dengan Kabupaten Batanghari untuk dicarikan solusi,” ujarnya.

Selain itu, Kaspul juga mengakui bahwa kekurangan tenaga pengajar menjadi persoalan besar di wilayahnya.

> “Kalau guru, kita memang kekurangan. Tahun ini kekurangan sekitar 779 guru dan sudah kami sampaikan ke pemerintah pusat,” katanya.

Butuh Solusi Nyata

Kondisi SDN 232 menjadi potret nyata masih adanya ketimpangan dalam pemerataan pendidikan, khususnya di wilayah perbatasan.

Di tengah keterbatasan fasilitas dan tenaga pengajar, para siswa dan guru tetap berjuang menjalankan proses belajar mengajar. Namun, persoalan ini menuntut perhatian serius dari pemerintah agar tidak terus berlarut tanpa solusi yang jelas.