Muaro Jambi – Potret buram dunia pendidikan kembali terlihat di Kabupaten Muaro Jambi. SD Negeri 232 yang berada di Desa Tanjung Lebar, Kecamatan Bahar Selatan, hingga kini masih harus menjalankan kegiatan belajar mengajar di fasilitas yang jauh dari kata layak.
Bangunan sekolah tampak memprihatinkan. Sejumlah ruang kelas masih berdinding kayu yang telah lapuk, sementara atap seng yang bocor kerap membuat ruangan tergenang air saat hujan turun. Kondisi ini jelas mengganggu kenyamanan dan konsentrasi siswa dalam belajar.
Tak hanya soal bangunan, keterbatasan ruang juga memaksa sekolah berbagi gedung dengan jenjang SMP. Proses belajar pun harus dilakukan secara bergantian. Siswa SD belajar pada pagi hari, sementara siswa SMP baru masuk siang hingga sore hari.
Di tengah keterbatasan tersebut, jumlah siswa yang harus dilayani tidak sedikit. Tercatat sebanyak 103 siswa SD dan 23 siswa SMP tetap menjalani aktivitas belajar di sekolah tersebut.
Ironisnya, kondisi ini diperparah dengan minimnya tenaga pengajar. Saat ini, hanya terdapat 5 guru untuk tingkat SD dan 2 guru untuk SMP yang harus menangani seluruh siswa.
Salah seorang guru, Harminah, mengungkapkan bahwa kondisi ini sangat memengaruhi proses belajar mengajar.
“Kalau hujan, kami sering kebocoran. Anak-anak jadi tidak nyaman belajar. Kadang kami harus pindah-pindah kelas,” ujarnya.
Ia juga menambahkan bahwa keterbatasan guru membuat mereka harus mengajar lebih dari satu kelas.
“Guru di sini terbatas, jadi kami harus mengajar beberapa kelas sekaligus. Yang penting anak-anak tetap bisa belajar,” tambahnya.
Menanggapi kondisi tersebut, Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Mua, menyampaikan bahwa secara administratif SDN 232/IX berada di wilayah Muaro Jambi, namun secara geografis masuk dalam batas Kabupaten Batanghari.
“SDN 232/IX ini berada di Dusun Sungai Beruang, Desa Tanjung Lebar, Kecamatan Bahar Selatan. Secara administrasi masuk Muaro Jambi, tetapi secara batas wilayah masuk ke Kabupaten Batanghari,” jelasnya.
Ia menyebutkan, kondisi tersebut menjadi kendala dalam pembangunan maupun rehabilitasi sekolah yang hingga kini belum dapat direalisasikan.
“Permasalahan ini masih dalam pembahasan dengan Kabupaten Batanghari untuk dicarikan solusi,” katanya.
Namun demikian, saat ditanya mengenai langkah konkret yang telah dilakukan Dinas Pendidikan Muaro Jambi dalam membantu kondisi sekolah tersebut, Kasypul iman tidak memberikan jawaban secara jelas.
Pertanyaan terkait kemungkinan distribusi ulang guru dari sekolah yang kelebihan tenaga pengajar ke sekolah yang kekurangan juga tidak dijawab secara tegas.
Kasypul hanya menegaskan bahwa kekurangan tenaga pengajar menjadi persoalan yang terjadi secara umum.
“Tahun ini kita kekurangan sekitar 779 guru dan sudah kita sampaikan ke pemerintah pusat,” ungkapnya.
Kondisi SDN 232 ini menjadi gambaran nyata masih adanya ketimpangan dalam dunia pendidikan di daerah. Di tengah berbagai program pembangunan, masih ada sekolah yang harus berjuang dengan fasilitas seadanya dan keterbatasan tenaga pengajar demi memastikan proses belajar tetap berjalan.















