JAKARTA – Hashim Djojohadikusumo menilai berbagai kelemahan yang muncul dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG) merupakan hal yang wajar, mengingat program tersebut baru pertama kali dijalankan secara masif di Indonesia.
Menurut Hashim, program berskala besar seperti MBG tentu menghadapi berbagai tantangan di tahap awal implementasi. Ia mengakui adanya sejumlah persoalan di lapangan, mulai dari kasus keracunan makanan hingga temuan makanan yang tidak layak dikonsumsi.
“Kelemahan-kelemahan itu saya kira wajar karena ini program pertama kali dilaksanakan dalam skala besar,” ujar Hashim.
Meski demikian, ia menegaskan bahwa berbagai kekurangan tersebut harus menjadi bahan evaluasi agar pelaksanaan program ke depan bisa lebih baik dan tepat sasaran.
Hashim juga menekankan pentingnya pengawasan ketat dalam distribusi dan penyediaan makanan, khususnya di tingkat daerah hingga desa. Menurutnya, keterlibatan berbagai pihak sangat dibutuhkan guna memastikan kualitas makanan tetap terjaga.
“Pengawasan harus diperkuat, terutama di tingkat bawah, agar tidak terjadi penyimpangan dan kualitas makanan tetap baik,” tambahnya.
Program Makan Bergizi Gratis sendiri merupakan salah satu program prioritas pemerintah yang bertujuan untuk meningkatkan kualitas gizi masyarakat, khususnya anak-anak, sekaligus menekan angka stunting di Indonesia.
Dalam pelaksanaannya, program ini menyasar jutaan penerima manfaat di berbagai daerah, sehingga membutuhkan kesiapan sistem distribusi dan pengawasan yang matang.
Hashim juga menyatakan bahwa kritik terhadap program MBG merupakan hal yang wajar dan perlu disikapi secara positif. Ia menilai masukan dari masyarakat sangat penting sebagai bahan perbaikan ke depan.
“Kritik itu penting, selama sifatnya membangun. Ini jadi masukan agar program bisa berjalan lebih baik,” pungkasnya.
