JAKARTA – Badan Riset dan Inovasi Nasional atau BRIN menjadi sorotan setelah mengunggah gambar Garuda Pancasila yang dinilai keliru.
Unggahan tersebut muncul saat peringatan Hari Lahir Pancasila dan langsung memicu kritik luas dari warganet berbagai platform media.
Publik menyoroti detail lambang Garuda yang dianggap tidak sesuai ketentuan resmi, terutama jumlah bulu pada beberapa bagian.
Kesalahan itu dengan cepat menyebar di media sosial dan memunculkan pertanyaan mengenai proses verifikasi konten lembaga tersebut.
Sejumlah pengguna media sosial menduga desain Garuda Pancasila tersebut dibuat menggunakan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI).
Dugaan penggunaan AI menguat setelah warganet menemukan sejumlah ketidaksesuaian visual yang berbeda dari lambang negara resmi.
Setelah kritik terus bermunculan, BRIN segera menghapus unggahan tersebut dan menggantinya dengan gambar yang telah diperbaiki.
Dalam pernyataan resmi, BRIN mengakui kesalahan yang terjadi dan menyampaikan permohonan maaf kepada seluruh masyarakat Indonesia.
“Kami memohon maaf atas ketidakcermatan dalam proses pembuatan dan publikasi konten peringatan Hari Lahir Pancasila.”
BRIN menyatakan akan menjadikan insiden tersebut sebagai evaluasi penting untuk meningkatkan kualitas pengawasan setiap publikasi digital.
Lembaga itu juga menyampaikan apresiasi kepada masyarakat yang aktif memberikan masukan serta mengingatkan kesalahan dalam unggahan.
Kontroversi ini kembali mengingatkan pentingnya ketelitian penggunaan simbol negara karena memiliki makna historis dan filosofis mendalam.
Jumlah bulu Garuda Pancasila melambangkan tanggal kemerdekaan Indonesia, yakni 17 Agustus 1945, sehingga tidak boleh sembarangan diubah.
Kesalahan pada detail lambang negara dinilai bukan sekadar persoalan desain, melainkan menyangkut simbol identitas nasional Indonesia.
