YOGYAKARTA – Wakil Menteri Pertanian Sudaryono mengaku mengalami tindakan fisik saat forum diskusi di Universitas Gadjah Mada (UGM) berakhir ricuh, Senin malam.
Selain menerima pukulan, Sudaryono juga mengaku terkena lemparan air ketika suasana diskusi bersama mahasiswa mulai memanas.
Kericuhan terjadi dalam forum yang menghadirkan sejumlah pejabat pemerintah di Gelanggang Inovasi dan Kreativitas (GIK) UGM Yogyakarta.
Menurut Sudaryono, situasi berubah setelah sekelompok peserta meminta kegiatan dihentikan meski sebagian mahasiswa masih ingin berdialog.
Akibat kondisi yang semakin tidak kondusif, petugas keamanan kemudian menyarankan para narasumber meninggalkan lokasi demi keselamatan bersama.
“Saya merasa ada yang memukul saya. Ada pelemparan air juga. Karena situasi sudah tidak kondusif, pihak keamanan menyarankan kami keluar,” kata Sudaryono.
Namun demikian, Sudaryono membantah tudingan bahwa dirinya bersama rombongan memilih kabur dari forum yang sedang berlangsung tersebut.
Ia menegaskan kehadirannya di kampus bertujuan membuka ruang dialog sekaligus mendengarkan berbagai kritik dari mahasiswa.
Bahkan, setelah keluar dari lokasi diskusi, Sudaryono mengaku tetap berusaha melanjutkan komunikasi dengan mahasiswa di luar arena.
Menurutnya, rombongan sempat dicegat ketika hendak meninggalkan kawasan kampus sehingga memilih kembali menemui mahasiswa.
“Kalau ada yang mengatakan Sudaryono dan Nusron kabur, itu tidak tepat. Justru kami yang datang untuk berdiskusi.”
“Bahkan saat mobil kami dicegat dan kami dicari-cari, kami keluar lagi dan duduk bersila di aspal untuk melanjutkan dialog,” tegasnya.
Selanjutnya, dialog spontan berlangsung di luar gedung dengan sejumlah mahasiswa yang menyampaikan kritik mengenai persoalan agraria nasional.
Menanggapi berbagai keluhan tersebut, Sudaryono menyatakan kesiapannya memeriksa langsung persoalan yang disampaikan mahasiswa di lapangan.
Ia bahkan mengaku bersedia menggunakan dana pribadi apabila diperlukan untuk mengecek dugaan persoalan agraria yang dilaporkan.
Selain itu, Sudaryono menegaskan pemerintah tetap membuka ruang kritik sebagai bagian penting dari praktik demokrasi yang sehat.
Insiden di UGM tersebut pun memicu perhatian publik karena melibatkan pejabat negara dan kelompok mahasiswa dalam forum terbuka.















