Daerah  

3.686 Hektare Sawah di Muaro Jambi Terancam Kekeringan, Kadis DTPH : Minta Petani Maksimalkan Pompanisasi

Kepala Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura (DTPH) Muaro Jambi, Evi Syahrul

MUARO JAMBI – Ancaman kekeringan mulai menghantui ribuan hektare lahan persawahan di Kabupaten Muaro Jambi, Provinsi Jambi.

Cuaca panas yang berlangsung dalam beberapa pekan terakhir membuat sejumlah lahan pertanian mulai mengalami kekurangan air. Kondisi ini terutama mengancam tanaman padi yang masih berada pada fase vegetatif.

Kepala Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura (DTPH) Muaro Jambi, Evi Syahrul, mengatakan hingga saat ini belum terdapat laporan mengenai tanaman padi yang mengalami gagal panen akibat kekeringan.

Namun, kondisi di lapangan mulai menunjukkan adanya ancaman, khususnya terhadap tanaman padi yang baru ditanam.

“Kalau gagal panen padi belum ada. Kondisi beberapa tempat sudah ada yang panen,” kata Evi Syahrul, Senin (10/8/2026).

Menurutnya, kondisi tanaman saat ini masih relatif aman karena sebagian lahan sudah memasuki masa panen. Namun, ancaman gagal panen dapat meningkat apabila kondisi panas dan minim hujan terus berlangsung.

“Kalau kondisi macam ini terus, bisa banyak nanti yang gagal. Apalagi yang baru menanam,” ujarnya.

3.686 Hektare Berpotensi Kekeringan

Evi menjelaskan, sejak Januari hingga Juli 2026, luas tanam padi sawah di Kabupaten Muaro Jambi mencapai sekitar 4.261 hektare.

Dari jumlah tersebut, sekitar 576 hektare telah memasuki masa panen. Sementara sekitar 3.685 hektare merupakan tanaman padi yang ditanam pada Mei, Juni dan Juli 2026.

Tanaman yang baru ditanam tersebut saat ini masih berada dalam fase vegetatif sehingga membutuhkan ketersediaan air yang cukup untuk menunjang pertumbuhannya.

“Kondisi panas beberapa minggu ini akan sangat berdampak terhadap lahan yang mengalami kekurangan air dan mengakibatkan stres pada tanaman,” kata Evi.

Berdasarkan pemetaan DTPH Muaro Jambi, potensi lahan sawah yang terdampak kekeringan mencapai sekitar 3.686 hektare.

Kecamatan Kumpeh menjadi wilayah dengan potensi kekeringan terbesar, yakni mencapai 1.632 hektare.

Kemudian Kecamatan Maro Sebo sekitar 604 hektare, Jaluko 505 hektare, Kumpeh Ulu 406 hektare, Sekernan 324 hektare, Taman Rajo 212 hektare, dan Mestong sekitar 3 hektare.

Petani Diminta Maksimalkan Sumber Air

Melihat kondisi tersebut, DTPH Muaro Jambi mendorong petani untuk tidak hanya mengandalkan hujan dan mulai memaksimalkan sumber air yang masih tersedia.

Salah satu langkah yang didorong adalah melakukan pompanisasi, baik dengan memanfaatkan sumber air permukaan maupun air tanah.

Evi berharap petani dapat segera mengantisipasi kekurangan air sehingga tanaman padi yang masih dalam fase pertumbuhan dapat diselamatkan.

“Mudah-mudahan petani dapat memaksimalkan ketersediaan air dengan upaya pompanisasi dari air permukaan maupun air tanah sehingga dapat menyediakan kebutuhan air bagi tanaman,” tandasnya.

Upaya tersebut dinilai penting untuk mencegah kondisi kekeringan berkembang menjadi gagal panen, terutama pada lahan yang tanaman padinya masih berada pada fase awal hingga pertengahan pertumbuhan.

Dengan luas potensi kekeringan yang mencapai ribuan hektare, pemantauan kondisi lahan dan ketersediaan air menjadi perhatian penting untuk menjaga produksi padi di Kabupaten Muaro Jambi.

Exit mobile version