JAMBI — Aktivitas bisnis di kawasan FoodCourt UIN Sultan Thaha Saifuddin (STS) Jambi terus berjalan. Pedagang tetap membayar sewa tenan, namun kondisi sejumlah fasilitas umum justru dikeluhkan dan dinilai jauh dari kata layak.
Kondisi ini memunculkan pertanyaan besar: ke mana aliran uang sewa dan bagaimana pengelolaan anggaran pemeliharaan fasilitas di pusat bisnis tersebut?
Pusat Bisnis UIN STS Jambi diketahui telah beroperasi sekitar dua tahun. Sejumlah pedagang menyebut biaya sewa satu tenan saat ini mencapai sekitar Rp8 juta per tahun.
Untuk kebersihan dan pemeliharaan bagian dalam tenan, pedagang mengaku menjadi tanggung jawab masing-masing.
Namun, persoalan muncul pada fasilitas yang digunakan bersama.
WC Rusak, Musala Ala Kadarnya
Salah seorang pedagang yang meminta identitasnya tidak dipublikasikan mengungkapkan, sejumlah fasilitas umum di lantai bawah gedung kondisinya memprihatinkan.
“WC di lantai bawah semuanya sudah rusak. Ada dua WC di samping, posisi belakang itu memang sudah rusak parah. Dek jebol, lantai kotor,” ujarnya.
Kondisi musala juga disebut belum mendapatkan perhatian optimal.
“Musala juga ya ala kadarnya,” katanya.
Keluhan tersebut menjadi pertanyaan karena kawasan tersebut merupakan pusat aktivitas perdagangan yang setiap tahunnya menghasilkan pemasukan dari pembayaran sewa tenan.
Jika pedagang rutin membayar sewa, lalu siapa yang bertanggung jawab memastikan fasilitas umum tetap layak? Dari pos anggaran mana biaya pemeliharaan dibayarkan?
Pertanyaan-pertanyaan inilah yang kini meminta jawaban dari pengelola.
Pernah Ada Kehilangan, Pedagang Patungan CCTV
Bukan hanya fasilitas umum yang menjadi sorotan. Aspek keamanan juga dikeluhkan.
Pedagang mengaku sebelumnya pernah terjadi kehilangan barang. Kondisi tersebut mendorong mereka berinisiatif memasang CCTV secara swadaya.
Para pedagang kemudian disebut mengumpulkan uang Rp35 ribu per pedagang untuk kebutuhan pemasangan kamera pengawas.
“Dulu kami beberapa pedagang pernah mengalami kehilangan barang atau dicuri. Inisiatif pedagang untuk memasang CCTV dengan mengutip uang atau patungan Rp35 ribu untuk satu pedagang,” ungkapnya.
Menurut keterangan pedagang, dana tersebut telah diserahkan kepada pihak pusat bisnis melalui Ketua Pedagang, Saladin.
Namun, hingga kini CCTV yang dijanjikan disebut belum juga terpasang.
“Itu sudah lama sekali. Sampai sekarang CCTV tidak dipasang. Uangnya sudah diserahkan dengan pusat bisnis melalui ketua pedagang, Saladin,” katanya.
Dengan jumlah pedagang yang disebut sekitar 40 orang, persoalan ini semakin membutuhkan penjelasan terbuka mengenai mekanisme pengumpulan, pencatatan, penyimpanan dan penggunaan dana tersebut.
Transparansi Pengelolaan Dipertanyakan
Pusat Bisnis UIN STS Jambi disebut berada di bawah pengawasan Wakil Rektor II, Fahmy, Sy., sementara operasional sehari-hari dikelola oleh manajemen pusat bisnis.
Pedagang berharap pihak pengelola tidak hanya memastikan kewajiban sewa berjalan, tetapi juga memberikan kejelasan mengenai pengelolaan kawasan dan fasilitas yang menjadi tanggung jawab bersama.
Ada sejumlah pertanyaan yang layak dijawab:
Berapa total pemasukan sewa tenan setiap tahun?
Ke mana alokasi dana pemeliharaan fasilitas umum?
Siapa yang bertanggung jawab atas kondisi WC dan musala?
Berapa dana CCTV yang telah terkumpul dan di mana penggunaannya?
Mengapa CCTV yang disebut telah lama dibayarkan pedagang belum terpasang?
Pertanyaan tersebut penting dijawab demi transparansi dan menjaga kepercayaan para pedagang terhadap pengelolaan Pusat Bisnis UIN STS Jambi.
Redaksi menegaskan, informasi mengenai dana CCTV, pengelolaan sewa dan kondisi fasilitas dalam berita ini masih berdasarkan keterangan pedagang. Tidak ada kesimpulan bahwa telah terjadi tindak pidana atau penyimpangan keuangan.
Pihak manajemen Pusat Bisnis dan pimpinan UIN STS Jambi perlu diberikan ruang untuk memberikan klarifikasi, termasuk terkait besaran penerimaan sewa, mekanisme pengelolaan dana, anggaran pemeliharaan serta pertanggungjawaban dana patungan CCTV.
Transparansi menjadi penting: uang sewa terus berjalan, tetapi fasilitas yang digunakan bersama justru dipertanyakan.
