Jakarta – Pemerintah bersama Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara atau BPI Danantara menetapkan kawasan Cikarang sebagai lokasi pembangunan hunian murah bagi masyarakat berpenghasilan rendah (MBR).
Program ini merupakan bagian dari upaya pemerintah dalam mempercepat penyediaan rumah layak sekaligus menekan angka backlog perumahan di Indonesia yang masih cukup tinggi.
Ketua Satgas Perumahan sekaligus Utusan Khusus Presiden, Hashim Djojohadikusumo mengatakan, kawasan Cikarang dipilih karena memiliki akses transportasi yang lengkap serta dinilai strategis untuk pengembangan kawasan hunian berskala besar.
“Lokasi ini sangat potensial karena didukung infrastruktur yang memadai dan dekat dengan kawasan industri sehingga memudahkan masyarakat pekerja untuk mendapatkan tempat tinggal yang layak,” ujarnya.
Salah satu proyek hunian murah tersebut akan dibangun di kawasan Meikarta. Proyek ini direncanakan berdiri di atas lahan sekitar 12,8 hektare dan akan terdiri dari 18 tower rumah susun dengan ketinggian sekitar 32 lantai.
Total investasi pembangunan diperkirakan mencapai Rp14 triliun hingga Rp16 triliun. Proyek ini ditargetkan mampu menyediakan sekitar 140 ribu unit apartemen yang diperuntukkan bagi masyarakat berpenghasilan rendah.
Dukungan terhadap proyek ini juga datang dari pendiri Lippo Group, Mochtar Riady, yang menghibahkan lahan seluas sekitar 31,3 hektare di kawasan Meikarta. Nilai lahan tersebut diperkirakan mencapai Rp6,2 triliun.
Lahan hibah tersebut akan dimanfaatkan untuk pembangunan hunian murah sebagai bagian dari program perumahan nasional yang dicanangkan pemerintah.
Pemerintah menargetkan pembangunan hunian ini dilakukan secara bertahap dan dapat rampung pada 17 Agustus 2028. Selain membantu masyarakat memiliki rumah terjangkau, proyek ini juga diharapkan mampu mendorong pertumbuhan ekonomi melalui sektor konstruksi serta industri pendukung lainnya.















