Miris! Korban Gempa NTT Krisis Logistik, Beras dan Air Bersih Menipis

NTT – Di tengah kepungan trauma dan gempa susulan, ratusan warga terdampak gempa Nusa Tenggara Timur (NTT) kini menghadapi persoalan lain yang tak kalah serius: krisis pangan dan air bersih.

Kondisi memprihatinkan itu terjadi di Posko Binaan Satar Kampas, Kecamatan Lamba Leda Utara, Kabupaten Manggarai Timur. Bantuan logistik yang belum sepenuhnya menjangkau lokasi membuat persediaan kebutuhan dasar warga semakin menipis.

Salah seorang pengungsi, Zaitun (36), mengaku warga di posko tersebut sudah kesulitan memenuhi kebutuhan sehari-hari. Beras dan air minum mulai menipis, sementara jumlah pengungsi terus bertambah.

“Kami di sini sudah tidak berdaya,” ujar Zaitun, Rabu (19/8/2026).

Dalam kondisi terdesak, sebagian korban bahkan terpaksa mengais sisa beras di antara reruntuhan rumah warga untuk bertahan hidup. Namun, persediaan tersebut kini juga semakin sedikit.

Ironisnya, warga yang sebelumnya mengungsi di sejumlah tenda lain mulai bergabung ke Posko Binaan Satar Kampas. Anak-anak hingga balita turut berada di lokasi tersebut.

Warga sempat diarahkan mengambil bantuan ke Posko Ronting yang berjarak sekitar lima kilometer. Namun, bantuan di lokasi itu ternyata juga mulai menipis.

Situasi tersebut bahkan memicu ketegangan antarpengungsi hingga terjadi keributan akibat warga berebut mendapatkan bantuan

Saat ini, ratusan pengungsi membutuhkan berbagai kebutuhan dasar, mulai dari sembako, air minum, selimut, sabun cuci, sabun mandi, pasta gigi hingga sikat gigi.

Trauma Gempa Belum Hilang

Bukan hanya kebutuhan logistik yang menjadi persoalan. Trauma akibat gempa juga masih menghantui para korban.

Zaitun menceritakan bagaimana rumahnya roboh ketika gempa mengguncang NTT pada Sabtu (15/8/2026) sekitar pukul 05.30 WITA. Saat itu, ia bersama istrinya berusaha menyelamatkan diri.

Namun, ketika hampir mencapai pintu, bagian depan rumah tiba-tiba runtuh. Bagian belakang bangunan kemudian ikut roboh.

Zaitun akhirnya berhasil keluar dari reruntuhan meski mengalami luka di bagian belakang tubuh.

Sementara itu, Fitri Tuti Darwanti (36), pengungsi lainnya, mengaku masih dihantui ketakutan setiap kali gempa susulan terjadi.

Ia bersama suami dan kedua anaknya memilih tidur di tenda darurat karena belum berani kembali ke rumah.

“Kami sedih, takut, trauma, campur aduk,” kata Fitri.

Aktivitas sehari-hari pun dilakukan dalam kondisi penuh kecemasan. Makan, minum hingga pergi ke toilet dilakukan dengan kewaspadaan karena gempa susulan masih terjadi.

Bahkan, gempa pada malam hari menjadi ketakutan terbesar karena warga sulit beristirahat dengan tenang.

59.647 Orang Masih Mengungsi

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat hingga Rabu malam jumlah korban meninggal dunia akibat gempa NTT mencapai 71 orang.

Sementara itu, jumlah pengungsi mencapai 59.647 orang. Pengungsi terbanyak berada di Kabupaten Manggarai sebanyak 20.103 orang dan Manggarai Barat sebanyak 19.345 orang.

BMKG juga mencatat hingga 19 Agustus 2026 telah terjadi 3.002 gempa susulan di NTT dengan kekuatan antara magnitudo 1,1 hingga 6,2.

Aktivitas gempa susulan diperkirakan perlahan menurun dalam dua hingga tiga minggu hingga sekitar satu bulan ke depan. Namun, bagi warga yang kehilangan rumah dan masih tinggal di tenda, ancaman gempa susulan tetap menjadi sumber ketakutan.

Bantuan Pemerintah Terus Dikirim

Di sisi lain, pemerintah menyatakan terus mempercepat pengiriman bantuan ke wilayah terdampak.

BNPB mencatat sebanyak 398 ton bantuan logistik telah dikirimkan ke NTT sejak 15 Agustus 2026. Sebanyak 165 ton di antaranya didistribusikan melalui jalur udara hingga Selasa (18/8/2026).

 

Pada Rabu (19/8/2026) dini hari, lima pesawat kembali diberangkatkan membawa sekitar 65 ton bantuan.

Bantuan tersebut meliputi makanan, minuman, tenda dan kebutuhan medis. Pemerintah juga menyiapkan posko utama di Labuan Bajo dan Maumere untuk mengatur distribusi bantuan ke sejumlah wilayah terdampak.

Namun, kondisi di Posko Binaan Satar Kampas menunjukkan bahwa tantangan penanganan bencana bukan hanya soal seberapa banyak bantuan yang dikirim, tetapi juga seberapa cepat bantuan tersebut benar-benar sampai ke tangan warga yang membutuhkan.

Di tengah jumlah pengungsi yang terus bertambah dan persediaan kebutuhan dasar yang semakin menipis, suara para korban kini menjadi pengingat bahwa distribusi bantuan harus benar-benar dikawal hingga ke pelosok pengungsian.

Exit mobile version