Buruh Pengupas Bawang di Jogja Bantah Upah Rp700 Ribu, Sehari Hanya Dapat Rp15 Ribu

YOGYAKARTA – Fakta berbeda diungkap buruh pengupas bawang di Pasar Beringharjo, Yogyakarta. Mereka membantah adanya upah hingga Rp700 ribu per kilogram seperti yang disebut Presiden Prabowo Subianto dalam pidatonya.

Dua buruh pengupas bawang, Ngatiyem dan Lastri, mengaku selama puluhan tahun bekerja mereka hanya menerima bayaran sekitar Rp3.000 per kilogram bawang yang dikupas.

Ngatiyem menilai angka Rp700 ribu per kilogram tidak masuk akal jika diterapkan untuk jasa mengupas bawang. Menurutnya, harga bawang merah sendiri hanya berkisar Rp60 ribu hingga Rp70 ribu per kilogram.

“Ya masak harga mengupasnya lebih mahal dari bawangnya, ya jadi tidak laku,” ujarnya.

Ia juga mengaku pernyataan mengenai upah Rp700 ribu tersebut justru berdampak terhadap pekerjaannya. Sejumlah pelanggan disebut menjadi takut menggunakan jasa pengupas bawang karena mengira tarifnya mencapai ratusan ribu rupiah.

Padahal, pekerjaan mengupas bawang menjadi salah satu sumber tambahan penghasilan bagi para buruh tersebut. Pelanggan mereka umumnya berasal dari warung makan, restoran hingga hotel.

Kondisi sebenarnya jauh dari angka ratusan ribu rupiah. Lastri mengatakan dalam sehari mereka paling banyak mengupas sekitar 10 kilogram bawang. Pekerjaan tersebut bahkan harus dilakukan oleh dua hingga tiga orang dan dapat berlangsung hingga sore atau malam hari.

“Paling banyak kerja dari pagi sampai sore dapat Rp15 ribu kalau mengupas 10 kg bawang dua orang,” kata Lastri.

Berita Lainnya  Sony Sonjaya Ajukan Justice Collaborator, Siap Bongkar Nama-Nama Besar dalam Kasus Korupsi MBG

Artinya, jika Rp15 ribu tersebut dibagi dua orang, masing-masing hanya memperoleh sekitar Rp7.500 untuk pekerjaan seharian.

Penghasilan mereka pun tidak menentu karena bergantung pada jumlah pesanan. Pada hari tertentu, bawang yang harus dikupas bisa mencapai sekitar 10 kilogram, tetapi di hari lain hanya dua atau tiga kilogram.

Kondisi tersebut membuat para buruh pengupas bawang berharap informasi mengenai penghasilan mereka tidak disalahpahami. Bagi mereka, pekerjaan mengupas bawang bukan pekerjaan dengan upah tetap, melainkan pekerjaan harian dengan pendapatan yang sangat bergantung pada ada tidaknya pelanggan.

Kisah Ngatiyem dan Lastri di Pasar Beringharjo pun menjadi gambaran lain tentang kondisi pekerja sektor informal yang masih bertahan dengan penghasilan sangat kecil di tengah tingginya kebutuhan hidup.