Mahasiswa UNJA Bergerak, BEM FEB Deklarasi Tolak Stockpile Batu Bara di Sekitar Candi Muaro Jambi

MUARO JAMBI – Polemik keberadaan stockpile batu bara di sekitar Kawasan Cagar Budaya Nasional (KCBN) Muaro Jambi kembali mendapat sorotan. Kali ini, suara penolakan datang dari mahasiswa Universitas Jambi (UNJA).

Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Jambi (BEM FEB UNJA) bersama mahasiswa dan sejumlah elemen kampus menggelar deklarasi penolakan terhadap keberadaan stockpile batu bara di sekitar kawasan Candi Muaro Jambi, Kamis (20/8/2026).

Ketua BEM FEB UNJA, Ahmad Haikal Fikri, mengatakan deklarasi tersebut merupakan bentuk kepedulian mahasiswa terhadap keberlangsungan dan kelestarian Candi Muaro Jambi sebagai warisan budaya sekaligus bagian penting dari sejarah Provinsi Jambi.

“Kami Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Jambi (FEB UNJA) bersama mahasiswa dan elemen kampus dengan ini menyatakan sikap menolak keberadaan stockpile batu bara di sekitar kawasan Candi Muaro Jambi,” tegas Haikal.

Menurut mahasiswa, persoalan stockpile tidak semata-mata berkaitan dengan aktivitas ekonomi. Keberadaannya juga menyangkut perlindungan kawasan cagar budaya, lingkungan, kenyamanan masyarakat serta keberlangsungan warisan sejarah bagi generasi mendatang.

“Candi Muaro Jambi bukan sekadar peninggalan masa lalu. Candi Muaro Jambi adalah warisan untuk generasi yang akan datang,” ujarnya.

Mahasiswa menegaskan pembangunan dan aktivitas ekonomi tetap penting bagi daerah. Namun, kegiatan tersebut harus berjalan dengan memperhatikan prinsip keberlanjutan serta perlindungan terhadap kawasan yang memiliki nilai sejarah dan budaya.

“Kami mahasiswa menilai aktivitas ekonomi dan pembangunan tetap dapat berjalan, tetapi harus dilakukan dengan memperhatikan prinsip keberlanjutan serta perlindungan terhadap kawasan yang memiliki nilai sejarah dan budaya,” katanya.

Mahasiswa Minta Pemerintah Bertindak

Deklarasi BEM FEB UNJA ini menambah panjang sorotan terhadap keberadaan stockpile batu bara di sekitar KCBN Muaro Jambi.

Sebelumnya, persoalan tersebut juga telah menjadi perhatian pemerintah pusat dan daerah. Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka bahkan sempat menerima aspirasi terkait aktivitas stockpile saat melakukan kunjungan kerja ke Jambi pada Juli 2026.

Berita Lainnya  Jasad Anak Perempuan dalam Kardus di Lampung Selatan, Surat Orang Tua Bikin Pilu

Gubernur Jambi Al Haris kemudian menyatakan pemerintah daerah siap mengikuti kebijakan pemerintah pusat terkait penataan kawasan. Ia juga menegaskan aktivitas industri tidak boleh mengganggu keberadaan kawasan cagar budaya.

Di sisi lain, Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Jambi disebut tengah mendalami keberadaan serta izin operasional perusahaan yang berada di sekitar kawasan KCBN Muaro Jambi. Penelusuran juga melibatkan pihak tata ruang dan perizinan pemerintah daerah.

Bagi mahasiswa, persoalan tersebut membutuhkan langkah konkret, bukan sekadar wacana.

Melalui deklarasi tersebut, BEM FEB UNJA menyerukan agar pemerintah memperkuat perlindungan terhadap Candi Muaro Jambi serta memastikan seluruh aktivitas ekonomi di sekitar kawasan berjalan sesuai ketentuan tata ruang, perlindungan cagar budaya dan prinsip keberlanjutan.

“Suara mahasiswa hari ini adalah suara kepedulian terhadap masa depan,” tegas Haikal.

Mahasiswa pun kembali menyuarakan tuntutannya:

“Selamatkan Candi Muaro Jambi. Tolak stockpile batu bara di sekitar Candi Muaro Jambi.”

Deklarasi tersebut menjadi sinyal bahwa persoalan stockpile batu bara di sekitar Candi Muaro Jambi kini bukan hanya menjadi perhatian masyarakat dan pemerintah, tetapi juga mulai mendorong gerakan mahasiswa untuk ikut mengawal keberlangsungan kawasan warisan budaya tersebut.