Jakarta — Ketegangan internal di tubuh Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) semakin memanas setelah Ketua Umum PBNU, KH Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya), menegaskan bahwa ia menolak mundur dari jabatannya meskipun adanya desakan dari jajaran Syuriah PBNU.
Di tengah polemik tersebut, Gus Yahya malam ini menggelar pertemuan khusus dengan puluhan kiai dan ulama di Gedung PBNU, Jalan Kramat Raya, Jakarta. Yang menarik, undangan resmi kegiatan tersebut tidak mencantumkan nama Rais Aam PBNU KH Miftachul Akhyar maupun Sekretaris Jenderal PBNU Saifullah Yusuf (Gus Ipul).
Pertemuan Konsolidasi di Tengah Desakan Mundur
Berdasarkan undangan yang beredar, pertemuan digelar untuk membahas situasi organisasi dan meminta pandangan para masyayikh. Sekitar 76 ulama dan kiai sepuh dari berbagai daerah hadir dalam konsolidasi ini.
Ketiadaan Rais Aam dan Sekjen dalam daftar undangan memunculkan spekulasi bahwa komunikasi antara Tanfidziyah dan Syuriah PBNU tengah berada dalam fase yang tidak harmonis.
Risalah Syuriah: Minta Mundur dalam 3 Hari
Ketegangan ini bermula dari risalah rapat Harian Syuriah PBNU yang menyatakan perlunya Ketua Umum mengundurkan diri dalam waktu tiga hari. Risalah itu mengaitkan keputusan tersebut dengan sejumlah keberatan terkait tata kelola organisasi dan keputusan strategis tertentu.
Namun Gus Yahya menegaskan bahwa masa jabatan Ketua Umum merupakan amanah Muktamar selama lima tahun, sehingga tidak ada alasan bagi dirinya untuk mundur sebelum masa bakti berakhir.
> “Saya memperoleh mandat lewat Muktamar dan akan menyelesaikan tugas sampai akhir periode,” tegasnya dalam pernyataan sebelumnya.
PBNU Berusaha Redam Gejolak
Pihak-pihak di internal PBNU menyebut bahwa upaya konsolidasi malam ini merupakan langkah untuk meredam gejolak dan menjaga marwah organisasi, di tengah sorotan publik yang makin besar terhadap dinamika internal NU.
Para ulama yang hadir dikabarkan memberikan pandangan terkait jalan tengah agar perbedaan di pucuk pimpinan PBNU tidak berkembang menjadi konflik terbuka.
Situasi Masih Cair
Hingga berita ini diturunkan, belum ada pernyataan resmi dari Rais Aam maupun Syuriah PBNU mengenai pertemuan tersebut. Sementara itu, langkah Gus Yahya mengumpulkan para ulama dinilai sebagai sinyal bahwa ia memilih bertahan dan membangun dukungan moral dari kalangan kiai sepuh.
Perkembangan konflik internal PBNU ini menjadi perhatian luas mengingat organisasi tersebut merupakan ormas Islam terbesar di Indonesia dengan pengaruh signifikan dalam berbagai isu nasional.















