Idul Adha di Gaza Dirayakan Tanpa Tradisi Kurban

GAZA — Suasana Idul Adha di Jalur Gaza tahun ini jauh dari tradisi penuh suka cita yang biasa dirasakan umat Muslim di berbagai negara. Warga Palestina terpaksa merayakan hari raya tanpa penyembelihan hewan kurban akibat perang berkepanjangan, krisis kemanusiaan, dan minimnya pasokan ternak.

Bagi Ahmed Nashwan, warga Gaza, Idul Adha kini hanya menjadi pengingat penderitaan yang dialami masyarakat selama beberapa tahun terakhir. Untuk tahun ketiga berturut-turut, dirinya tidak lagi pergi bersama keluarga ke pasar ternak untuk memilih hewan kurban seperti tradisi sebelumnya.

“Sebelum perang, Idul Adha merupakan momen penuh kebahagiaan bagi kami. Kami biasanya berkumpul sebagai keluarga untuk memilih hewan kurban dan membagikan daging kepada kerabat serta keluarga miskin,” ujar Nashwan kepada Xinhua.

Menurut Kamar Dagang Gaza, harga hewan kurban melonjak drastis dari sekitar 500 dolar AS sebelum perang menjadi 6.000 hingga 7.000 dolar AS. Kondisi itu membuat mayoritas warga tidak lagi mampu membeli hewan kurban di tengah hancurnya ekonomi dan hilangnya sumber penghasilan masyarakat.

Selain mahal, pasokan ternak di Gaza juga hampir tidak tersedia. Penutupan perlintasan membuat impor hewan ternak berhenti total. Banyak peternakan, kandang, hingga gudang pakan hancur akibat konflik yang berlangsung sejak beberapa tahun terakhir.

Warga Gaza kini menjalani Idul Adha dengan sederhana di tengah keterbatasan pangan dan kondisi kemanusiaan yang memburuk. Tradisi kurban yang selama ini menjadi simbol kebersamaan dan kepedulian sosial pun kembali tak dapat dilaksanakan.

Exit mobile version