Ratusan Santri Diduga Keracunan MBG, BGN Suspend SPPG Kalitengah Sidoarjo

SIDOARJO — Badan Gizi Nasional (BGN) mengambil langkah tegas dengan menghentikan sementara atau men-suspend operasional Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Kalitengah, Kecamatan Tanggulangin, Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur, setelah ratusan santri diduga mengalami keracunan usai mengonsumsi makanan program Makan Bergizi Gratis (MBG).

SPPG Kalitengah diketahui menjadi salah satu dapur yang memasok makanan MBG kepada para santri Pondok Pesantren Mambaul Hikam, Desa Putat, Kecamatan Tanggulangin.

Dalam kejadian tersebut, ratusan santri mengalami keluhan kesehatan dan harus mendapatkan penanganan medis di sejumlah rumah sakit. Data terbaru yang dihimpun menyebutkan jumlah korban terus mendapat penanganan medis.

Wakil Koordinator Regional BGN Jawa Timur, Teguh Bayu Wibowo, mengatakan keputusan menghentikan sementara operasional SPPG dilakukan sebagai langkah mitigasi sekaligus memberikan ruang bagi proses investigasi.

BGN juga melakukan evaluasi terhadap seluruh proses penyediaan makanan, mulai dari pengolahan bahan, penyimpanan, pengemasan hingga distribusi kepada penerima manfaat.

Namun, BGN belum menyimpulkan bahwa makanan yang diproduksi SPPG Kalitengah merupakan penyebab pasti gangguan kesehatan yang dialami para santri.

Sampel makanan telah diamankan untuk menjalani pemeriksaan laboratorium. Pemeriksaan dilakukan bersama pihak terkait guna mengetahui apakah terdapat kontaminasi atau faktor lain yang menyebabkan para santri mengalami gejala keracunan.

“Untuk sementara, kami akan suspend dapur ini,” kata Teguh.

BGN menyatakan hasil investigasi dan pemeriksaan laboratorium nantinya akan menjadi dasar untuk menentukan langkah selanjutnya terhadap SPPG tersebut.

Berita Lainnya  Kapolda Jambi Resmikan Lapangan Siginjai Presisi, Turnamen Kapolda Cup 2026 Resmi Bergulir

Sementara itu, Pemerintah Provinsi Jawa Timur menegaskan bahwa penghentian sementara SPPG merupakan bagian dari prosedur BGN ketika terjadi dugaan kejadian keracunan. Wagub Jawa Timur Emil Dardak juga meminta agar akar persoalan diungkap secara menyeluruh dan tidak terburu-buru menyimpulkan penyebab sebelum hasil laboratorium keluar.

Peristiwa ini kembali menyoroti aspek pengawasan keamanan pangan dalam pelaksanaan program MBG. Evaluasi tidak hanya diperlukan terhadap dapur penyedia makanan, tetapi juga seluruh rantai proses, mulai dari pengadaan bahan baku hingga makanan diterima dan dikonsumsi oleh penerima manfaat.

BGN sendiri menyampaikan permohonan maaf kepada para korban dan memastikan penanganan kesehatan para santri menjadi prioritas utama.

Hingga hasil pemeriksaan laboratorium keluar, penyebab pasti dugaan keracunan massal tersebut masih dalam proses penyelidikan.