VATIKAN – Seruan tegas datang dari Vatikan terkait memanasnya konflik antara Amerika Serikat dan Iran. Gereja Katolik meminta umat, khususnya di Amerika Serikat, untuk tidak hanya berdoa, tetapi juga mengambil langkah nyata guna menghentikan perang yang dinilai tidak bermoral.
Kardinal Robert McElroy menegaskan bahwa doa semata tidak cukup menghadapi situasi global yang kian memburuk. Ia mendorong umat Katolik agar aktif menyuarakan penolakan terhadap perang melalui jalur politik dan sosial.
“Berdoa saja tidak cukup, kita juga harus bergerak,” tegas McElroy dalam pernyataannya.
Menurutnya, umat memiliki tanggung jawab moral untuk menekan para pemimpin politik agar menghentikan konflik yang berpotensi menimbulkan penderitaan luas. Ia juga mengajak masyarakat untuk menggunakan pengaruh mereka, termasuk melalui wakil rakyat, demi mendorong terciptanya perdamaian.
Sikap keras juga ditunjukkan oleh Paus Leo XIV yang belakangan semakin vokal mengkritik kebijakan militer Amerika Serikat di Iran. Paus bahkan menyebut perang tersebut sebagai tindakan yang tidak dapat dibenarkan secara moral.
Ia menegaskan bahwa tidak ada agama yang membenarkan kekerasan. “Tuhan tidak memberkati konflik apa pun,” menjadi pesan kuat yang disampaikan dalam berbagai kesempatan.
Pernyataan Vatikan ini muncul di tengah meningkatnya ketegangan akibat kebijakan Presiden AS Donald Trump yang dinilai agresif terhadap Iran.
Retorika keras dan ancaman militer disebut semakin memperkeruh situasi serta menjauhkan peluang perdamaian.
Bahkan, laporan menyebutkan pemerintah Amerika Serikat sempat memberikan teguran kepada Vatikan agar tidak terlalu jauh mengkritik kebijakan luar negeri mereka. Namun, hal itu tidak menyurutkan sikap Gereja Katolik yang terus menyerukan penghentian perang.
Konflik AS–Iran sendiri hingga kini masih berlangsung tanpa tanda-tanda mereda. Upaya diplomasi yang dilakukan belum membuahkan hasil signifikan, sementara kekhawatiran akan eskalasi konflik semakin meningkat.
Vatikan pun menegaskan bahwa keterlibatan umat dalam mendorong perdamaian menjadi hal penting. Tidak hanya melalui doa, tetapi juga melalui tindakan nyata yang dapat memengaruhi kebijakan publik.
Dengan pernyataan ini, Vatikan menunjukkan sikap yang lebih aktif dalam isu geopolitik global, sekaligus menegaskan bahwa tanggung jawab moral umat tidak berhenti di ruang ibadah, tetapi juga dalam kehidupan sosial dan politik.
