berita hari ini.......

Nasib Insan Pers Ditengah Peliputan Wabah Covid 19

Jadilah Pemimpin Yang Menciptakan Perubahan Dimana Dia Ada

"Pentingnya Pimpinan Melakukan Kunjungan Kepada Warga Agar Selalu Dicintai"
poto: Efraim Pata Allorante

Tugas dan panggilan untuk melayani masyarakat membutuhkan persiapan yang benar-benar siap. Sebagai pelayan masyarakat harus menyiapkan segala-galanya untuk melayani,  mengayomi dengan tulus dan iklas,  bahkan membutuhkan pengorbanan yang luar biasa,  bukan hanya untuk mendapat penghormatan.
Ketika seseorang dipercayakan oleh masyarakat untuk menjadi seorang pemimpin maka hendaknya ia melayani dengan sepenuh hati bukan dengan setengah hati. Gaya dan cara seorang pemimpin untuk melayani masyarakatnya sangatlah berpengaruh untuk masa mendatang,  dan bahkan ada ahli yang menganggap fakta ini sebagai fakta sentral atau sedikitnya sebagai titik tolak menuju masa perubahan, pasalnya,  melayani warga maka hal itu sangat berpengaruh bagi kemajuan wilayah atau daerah itu sendiri.
Mengunjungi warganya adalah menjadi suatu alat utama dalam pelaksanaan pengabdian masyarakat dan Negara. oleh sebab itu,  para Pemimpin perlu untuk memberi perhatian kepada  warganya itu untuk melakukan kunjungannya
dimasyarakat.
Sebagai Masyarakat dapat mengenal pemimpinnya dengan baik dan sebaliknya, kalau Pemimpin dan warganya tidak pernah melakukan komunikasi,  bagaimana mungkin bisa saling mengenal,  mana rakyatku dan mana peminpinku.
Pada masa sekarang ini,  banyak warga masyarakat mengalami berbagai macam persoalan, persoalan yang dihadapi begitu komplit,   yang akhirnya dapat menggangu kerukunan, dan ketentraman didaerah itu sendiri,  akan tetapi karna sudah menanam bibit pelayanan bukan untuk dilayani dan  bibit itu berbuah dengan buah kebaikan, artinya Pemimpin itu hadir ditengah-tengah masyarakat untuk mengatasi persoalan itu, kenapa tidak! seorang Pemimpin harus melakukan tindakan nyata kepada warga masyarakatnya untuk melepaskan dari persoalan permasalahan yang menimpanya.
Kunjungan kepada warga masyarakat bukan hanya dilakukan untuk masyarakat golongan bahkan suku tertentu saja,  namun untuk semua warga masyarakat,  baik itu yang dikota,  bahkan yang dipelosok sekalipun.
penulis memberi sebuah contoh teladan dari Yesus Kristus yang mengadakan banyak sekali per cakapan pribadinya dengan masyarakat disekitar,   bahkan ia sendiri yang lebih dulu berinisiatif untuk membangun hubungan itu,  misalnya,  ketika Ia melihat Zakeus berada diatas pohon ara,  Ia segera berkata bahkan akan menginap dirumah Zakeus. dan hasilnya ada perkara besar terjadi. contoh lainnya,  percakapan Yesus dengan Nikodemus,  Yesus dengan Perempuan samaria,  Yesus dengan perempuan yang anaknya meninggal.  Pada saat melakukan kunjungan, Yesus mendatangi mereka ditempat mereka bekerja.  Yesus pergi kepantai,  sumur,  pasar,  rumah pemungut cukai dan tempat-tempat ibadah.  Jadi,  perkunjungan kepada warga masyarakat pada prinsipnya adalah untuk membangun hubungan yang dekat dengan warga. Dengan demikian, akan mengetahui lebih dekat keadaan warga masyarakat yang dikunjungi itu sendiri.
Sesuatu yang menarik adalah,  sikap dan tanggung jawab dari seorang pemimpin terlihat dalam hubungan tindakannya,  dengan tegas yang diberikan kepadanya,  kepada warga yang dipimpinnya,  dan kesediaannya menghadapi segala macam akibat yang ada baik itu kesulitan dan kritikan. Jadi,  seorang pemimpin harus mempu memproyeksikan kepribadian yang tercermin antara lain dalam bentuk kesetiaan dalam organisasi,  kesetiaan kepada bawahan, dedikasi kepada tugas,  disiplin dalam kerja,  landasan moral dan etika yang digunakan, kejujuran perhatian kepada kepentingan dan kebutuhan bawahan dan berbagai nilai-nilai hidup lainya yang bersifat positif.
Untuk itu, bagaimana masyarakat mengenal pemimpinnya begitu juga pemimpin mengenal masyarakatnya lebih akrap dan yang harmonis?. Salah satu cara adalah pemimpin itu turun langsung melihat apa yang sebetulnya terjadi di lapangan.  Ini adalah hal yang sangat bagus dalam kepemimpinan.  Sebab, kebanyakan pemimpin hanya ada di balik meja saja.  Menerima laporan, memberi perintah dan sebagainya, lalu enggan turun ke bawah.  Pemimpin yang melayani adalah pemimpin yang bersedia turun ke bawah bersama orang yang dipimpinnya, untuk melakukan apa yang harus dilakukan.
Hal ini menjadi satu semangat yang perlu bagi seorang pemimpin miliki dan jika ada orang yang mengaku sebagai pemimpin, tapi dia tidak memiliki semangat turun ke bawah, maka dia tidak layak disebut sebagai seorang pemimpin yang melayani.
Orang yang turun ke bawah akan melihat kepada semua aspek yang mungkin untuk digarap, untuk dikerjakan.  Itulah pemimpin yang melayani. Pemimpin yang melayani, yang turun kebawah juga tidak mempertahankan diri dan posisi.  Pemimpin yang melayani selalu bekerja untuk melaksanakan tugas-tugasnya karena dia tahu ini semua tugas harus diselesaikan.
Tapi dia tidak bekerja untuk mempertahankan posisinya, tapi berlandaskan tugas dan panggilannya.   Jabatan sebenarnya adalah tugas yang diemban itu.  Jabatan yang dijalankan bukan pula jabatan kursi semata. Karena itu orang musti belajar agar tidak terikat kepada jabatan kursi dan demi mempertahankan kursi.  Tapi betul-betul jabatan dalam rangka pelaksanaan tugas.
Godaan kepemimpinan yang terbesar adalah godaan untuk diservis, dihormati, dan godaan untuk dilayani.  Namanya juga pemimpin.  Maka banyak orang terus memperkuat posisi kepemimpinannya supaya mendapat penghormatan yang maksimal untuk diri.  Tetapi kita diminta berlaku paradoks, supaya semakin kuat memimpin, semakin hebat, semakin tinggi, tapi semakin melayani.
Tentu bukan soal mudah.  Misalnya, tidak sedikit orang yang hendak memakai motto: “melayani bukan untuk dilayani”,  tetapi dalam prakteknya justru jauh dari motto tersebut.  Lalu bagaimana jika ketika kita sedang melayani,  tapi justru disaat yang sama orang yang dilayani menyediakan makan, minum, lalu sediakan tempat istirahat untuk kita, bukankah itu namanya juga dilayani?  Betul, tapi itu bukanlah tujuan sebenarnya.  Itu adalah bonus atas apa yang dilakukan.  Namun konsentrasinya terpaut pada apa yang dilakukan, bukan pada apa yang akan diterima.
Karena itu, penyebab pertama orang dalam melayani bukanlah apa yang akan di dapat, tapi apa yang sudah di dapat.  Maka, ketika orang yang melayani, mendapat makan dan minum dan seterusnya, maka itu tidak lebih hanya bonus saja. Orang yang sadar dengan orientasi melayani mengakibatkan dia memimpin dengan spirit yang melayani.  Hal ini berdampak dalam setiap aspek yang dilakukan dan dikerjakan.
Dengan mentalitas yang kuat seperti itu, maka pemimpin akan menciptakan perubahan di mana dia ada.  Itu menjadi kegairahan dan kebangunan yang hebat yang diperlukan dalam hidup. Dalam kepemimpinan yang dikerjakan terjadi perubahan kualitas pada diri.  Karena penguasan diri membuat orang makin mampu mengendalikan diri.  Karena memang kita mempunyai satu nilai yang baru, yakni makin hari itu akan makin hebat dan makin hebat dalam melayani masyarakat, karena itu jangan takut orang tidak terima, tidak mengapa karena kita semakin terasah, semakin kuat, semakin teruji dan alangkah indahnya, karena itu jalani hari-hari ini, mari belajar untuk betul-betul memiliki spirit yang melayani, supaya kita tahu di mana kita ada, untuk merubah situasi, bukan kalah pada situasi.
Pemimpin harus memiliki Solusi karena seorang pemimpin rakyak harus memiliki kemampuan memanfaatkan peluang-peluang yang ada, dan siap menghadapi tantangan-tantangan yang menghadang. (penulis Efraim Pata Allorante)