Anggota DPRD Landak Minta Hiburan Rakyat Harus Dibuat Perda

Poto:Hiburan joget ala goyang Tempel

Landak (SOROT POST)-Budaya kesenian Hiburan  rakyat Suku Dayak yang dipertontonkan untuk umum seperti hiburan tarian Jonggan dari sejak lama hingga sampai saat ini masih ada, dan hiburan tarian yang menampilkan pertunjukan kesenian budaya khas Suku Dayak  seperti tarian  wanita menggunakan gaun busana ala motif  Dayak, Balas Pantun, alat musik ala tradisional, dan tarian silat.
Tarian Jonggan diera sekarang sudah hampir tenggelam lantaran hiburan jonggan dianggap kuno dan ketinggalan jaman.
Di era sekarang,  masyarakat malah memilih hiburan yang cendrung merusak tatanan budaya dan yang berdampak negatif para kaun muda seperti hiburan jonggan kaset dan hiburan lainnya  yang lebih menampilkan  aurat dan tarian ala Goyang tempel.
Menyingkapi hal tersebut, Nikodemus anggota DPRD  fraksi PDIP dari komisi C, menyebutkan hiburan rakyat yang sekarang sudah berbau ala pornografi yakni tarian goyang tempel, hiburan jonggan kaset (Jongset) yang sudah merambah di masyarakat, perlu dibuat dan diatur dalam  Peraturan Daerah (Perda)  sehingga Hiburan Rakyat dengan adanya Perda ada yang bisa mengawasi dan aturan yang dipatuhi.
" Kita harus luruskan soal hiburan yang menyangkut budaya seperti hiburan jonggan, dan kalau jonggan ya jonggan dan tidak dicampur adukan dan kalau mau kaset pakai karaoke  silakan, dan itu harus bisa dipisahkan artinya yang namanya Jonggan Kaset (Jongset) itu tidak ada. Dan sehubungan dengan itu kita berharap Pemerintah Daerah beserta Wakil Rakyat mungkin karna ini sudah menjadi penyakit masyarakat ini memang perlu dibuat peraturan daerah yang secara tegas dan intinya bahwa saya secara pribadi menolak keberadaan jongset karna tidak ada budaya yang pas yang mengena budaya dayak, "tutur, Nikodemus.
poto: Anggota DPRD Kabupaten Landak

Nikodemus sangat prihatin dengan adanya hiburan  jongset yang menampilkan tarian dan seperti goyang ajep-ajep dan ini sangat merusak generasi muda, dan seharusnya generasi muda melestarikan budaya dan bukan merusak budaya.
"Gerasi mudah harus melestarikan budaya bukan merusak budaya dan ini menjadi peringatan pengurus adat, baik itu ditingkat dusun,desa, kecamatan bahkan di Kabupaten, dan sangat perlu dibuat Peraturan daerah,  (Perda) karna berkaitan dengan hiburan,  itu dibuat dan sangat sangat-sangat penting karna penyakit masyarakat hiburan yang dipertontonkan orang dimana-mana dan ini penyakit orang dayak yang dilihat orang ditonton orang dan ini yang menjadi pemikiran bagi kita, dan satu hal yang saya harapkan Dewan Adat, dusun, desa, kecamatan dan Kabupaten  bahkan aparat hukum segera untuk menindaklanjuti hiburan yang tidak mendidik seperti ini, karna mereka harus keberatan karna sudah merusak adat Budaya kita, dan kita harus melestarikan budaya sekalipun orang itu sudah beragama tapi dia tetap berbudaya, nah cuman berbudayanya apakah cocok atau sesuai dan ini menjadi pemikiran kita dan tentu saja kami dari Anggota Legislatif sebagai wakil rakyat akan berusaha menginisiasi peraturan daerah tentang kesenian daerah atau hiburan apapun yang berhubungan dengan penyakit masyarakat, dan juga hiburan band ini adalah penyakit masyarakat yang sudah kronis dari dulu sudah menjamur dan ini harus dibersihkan dari hal-hal negatif," harap Niko pada kamis (11/7/19 siang.
Menyingkapi hal hiburan rakyat yang bersifat negatif , Pendeta Lorianto, S.Th.M.Pd  sekaligus anggota DPRD dari komisi A, juga prihatin dan mengkwatirkan kaum anak muda dan perlu penangan yang serius mulai dari orang tua , keluarga, sampai dengan tokoh agama dan itu sangat penting dan kepada masyarakat.
"kalau kita lihat sekarang khususnya ditingkat kalangan muda daerah kabupaten Landak, dan ini sudah sangat mengkwatirkan tingkat pergaulan anak-anak muda, dan perlu penangan yang serius, dan kalau didalam keluarga itu sendiri sampai dengan tokoh agama dan masyarakat tidak mampu memberikan kesejukan, tidak mampu memberi arahan yang bisa mendidik dan itu artinya kita sudah melihat ambang kehancuran masa depan generasi, ujar pendeta Lorianto.
Hiburan yang memiliki standar pesan moral, menurut pendeta Lorianto, yang disebut hiburan seperti bernyanyi, berjoget  itu tidak salah tetapi ada batas-batas tertentu yang harus dipahami, sehingga itu tidak merusak moral.
"tolong tokoh-tokoh agama, pengurus warga setempat dan aparat hukum untuk bisa menyaring hiburan mana yang bisa ditampilkan dan hiburan yang tidak bisa ditampilkan, dan masyarakat kita bukan memiliki adat yang bebas dan dari sudut pandang agama melihat hiburan bersifat negatif dan itu sangat miris sekali, dan kalau bisa para tokoh masyarakat dan aparat untuk mengambil langkah sesuai ketentuan yang ada,"papar pendeta Lorianto. (Nes)

Menerima Semua Jenis Pemasangan Iklan

 ©Hak Cipta Dilindungi. Sorotpost.com
Powered by.PT.Bahtera Sangkakala SPN.