Rabu, 13 Maret 2019

IWO Salah Satu Media Yang Diperhitungkan Diindonesia

poto:Logo IWO

DEPOK (SOROT POST) – Ikatan Wartawan Online (IWO) merupakan salah satu organisasi Wartawan Online yang cukup diperhitungkan saat ini di Indonesia.

Pasalnya IWO yang baru saja melaksanakan Rapat Kerja Nasional (RAKERNAS) pertama di Depok Jawa Barat, senin-selasa (11/12/3), ternyata telah membentuk 107 kepengurusan yang terdiri dari 34 Pengurus Wilayah (PW) dan 73 Pengurus Daerah (PD).

ArtikelLainnya
BLP Pasangkayu Kedatangan Tim Panwaslu Kecamatan, Ada Apa?
Jelang Rakernas, Ketua Umum IWO Beri Pesan Ini
Gelar Paripurna DPRD Pasangkayu Terima Enam Ranperda

“Wartawan yang bernaung di bawah IWO saat ini sudah mencapai angka 3000 an di Seluruh Indonesia” Kata Jodhi Yudono, Ketua Umum IWO, yang juga Redaktur Senior Kompas Group, saat membuka acara Rakernas IWO, di Shekinah Village,  Depok, senin (11/3).

Namun demikian, kata Jodhi, bahwa perjalanan IWO sebagai organisasi profesi wartawan yang telah terbentuk sejak tahun 2012 tidaklah mudah.

“IWO bahkan sempat mati suri selama lima tahun, namun sejak digelarnya Mubes Pertama 8-9 maret 2017, IWO kembali bangun dan digodok dengan berbagai dinamika yang ada, hingga tetap kokoh sampai saat ini” katanya.

Jodhi mengaku, selama setahun lebih, IWO memang mengalami  guncangan luar biasa, namun dia mengganggap bahwa itu adalah hal biasa dan sebuah dinamika dalam kehidupan organisasi.

“IWO akan tetap hidup sebagai wadah persahabatan kita semua, kehadiran kita di Rakernas ini bukti kesolidan dan kasih sayang untuk saling menguatkan di antara kita semua” kata Jodhi.

Jodhi mengingatkan, bahwa saat ini adalah zaman digital, dan media online bukan hal yang sepele di mata dunia serta harus diperhitungkan keberadaannya.

“Kita harus ingatkan pada semua orang, bahwa wartawan online saat ini sudah bukan warga kelas tiga dalam dunia Pers. Melainkan warga kelas satu yang patut diperhitungkan keberadaannya di mata dunia,” tegas Jodhi.

Fakta – fakta Menarik Seputar Rakernas IWO Pertama.

Terdapat perbedaan yang menonjol, dalam penyelenggaraan kegiatan IWO kali ini.

Berbeda dengan gelaran Mubes IWO ditahun 2017 silam, yang tampak mewah dan berkelas. Rakernas pertama IWO tahun ini dikemas dengan sangat sederaha dan bersahaja.

“Ini memang sengaja di kemas seperti ini, sebab sesuai filosofi yang ditekankan oleh Ketum IWO bahwa IWO harus bisa berdiri di atas kaki sendiri” ujar Edwar Pangabean, selaku Sekjen IWO, Wartawan Senior yang pernah mengabdi di media besar Liputan6.

Menurut, Edwar, IWO sebenarnya bisa saja mengemas Rakernas dalam bentuk yang mewah, sebab berbagai tawaran memang masuk dari berbagai pihak.

“Namun hari ini kita membuktikan bahwa tanpa Sponsor, kita pun bisa menggelar Rakernas ini” ujarnya.

Rakernas IWO yang mengusung tema“Masa Depan Wartawan di Era Industri 4.0” menghadirkan beberapa nara sumber handal dan profesional untuk mengisi beberapa sesi acara dalam rakernas tersebut diantaranya yaitu:

1. Rusti Herlambang, Direktur Komunikasi Indonesia Indicator, yang juga berkantor di Malaisya.
2. Edy Fajar, Enterpreuner muda dan Influencer, yang kreatif di dunia online
3. August Parengkuan, Ketua Dewan Penasehat IWO yang juga mantan Wartawan senior di Kompas Group dan mantan Duta Besar Italia.
4. Casmo Tatalitova, Wartawan Era Sukarno dan juga mantan Ketua Wartawan Istana era 1979 hingga 2003.
5. Haris Jauhari, Mantan Ketua Ikatan Jurnalis TV Indonesia (IJTI), yang juga salah satu tokoh sentral yang meloloskan IJTI menjadi konstituen Dewan Pers hingga saat ini.
6. Ibnu Majah, Doktor muda, pakar dunia pers, yang juga sempat menjadi saksi ahli dalam perkara gugutan terhadap Dewan Pers beberapa waktu lalu.
7. Lia, Wartawan yang menguasai 13 bahasa negara dunia dan pernah menjadi Wartawan internasional, Media Reuters, yang bermarkas di London Inggris.

Dalam diskusi yang digelar panitia tersebut, Rusti Herlambang dalam penjelasannya memaparkan bahwa Media online atau Wartawan online sebenarnya telah melewati tiga fase dalam perkembangannya.

“Berdasarkan riset yang dilakukan lembaga kami, bahwa media online telah melalui beberapa fase, mulai dari fase era 2012-2015, fase era 2015-2017, dan fase 2017 – hingga saat ini” ungkap Rusti.

Menurut, Rusti pada era 2012-2017 media online benar-benar dipercaya bisa merepresentasekan kondisi yang ada pada masyarakat.

“Apa isu yang diperankan oleh media online saat itu, maka menurut riset saat itu terbukti akan sesuai dengan fakta yang akan terjadi” jelas Rusti.

Rusti mencontohkan, diera itu diantara beberapa tokoh nasional yang diisukan oleh media atau wartawan online mengisi kontestasi pilpres, muncul nama Jokowi yang sangat dominan.

“Dan terbukti, Jokowi memenangkan pilpres itu” katanya.

Namun menurut Rusti, memasuki era 2015-2017, media online cenderung subjektif.

“Sejak era ini media online sudah tidak mampu merepresentasekan kondisi di lapangan, sebab apa yang diisukan terkadang tidak mampu mengejawantahkan kondisi ril yang ada di lapangan” jelas Rusti.

Terakhir, kata Rusti era 2017 hingga saat ini, yaitu era industri 4.0. Era dimana terjadi pergolakan sangat dahsyat antara media online dan media sosial.

“Disinilah timbul tantangan berat bagi Wartawan online, sebab ada kecenderugan orang lebih memilih media sosial, ketimbang media online, inilah PR besar IWO” kata Rusti.

Sementara itu, Haris Jauhari, di sesi diskusi lainnya, dalam penjelasannya lebih menekankan pada polemik implementasi UU PERS No 40 Tahun 1999, Produk peraturan-peraturan Dewan Pers yang dinilai rancu, dan korelasi idealisme wartawan dan industri.

“Substansi UU pokok Pers sebenarnya menjelaskan dua poin, yaitu tentang organisasi Wartawan, dan organisasi Perusahaan Pers” jelas Haris.

Sehingga, menurutnya, produk Dewan Pers tentang uji kompetensi wartawan (UKW) yang sering ramai diperbincangkan dinilai tidak tepat.

“Dewan Pers mestinya mendidik, dan mengayomi Wartawan sesuai amanah UU Pokok Pers. Inikan mendidik tidak pernah, melatih tidak pernah tiba-tiba menguji wartawan, kan rancu dan mubazir” katanya.

Selain itu, Haris juga menekankan bahwa Dewan Pers Sebenarnya tidak memiliki kewenangan untuk melakukan verifikasi terhadap organisasi dan perusahaan pers.

“Sesuai amanah UU Pers, tugas Dewan Pers itu mendata bukan memverifikasi” ujar Haris

Terkait idealisme Wartawan, Haris menjelaskan bahwa terkikisnya nilai idealisme Jurnalis diawali ketika Media TV yang eksis saat itu mulai memasuki ranah bisnis.

“Idealisme Wartawan mulai menghilang saat itu, sebab Industri pada dasarnya memang tidak bisa sejalan dengan idealisme” kata Haris.

Haris pun menjelaskan bahwa ke depan, orang-orang akan cenderung lebih mempercayai karya karya secara individual dari pada perusahaannya.

“Sehingga ini akan memunculkan karakter karakter individu yang terpercaya” kata Haris.

Diakhir rangkaian acara Rakernas, IWO akhirnya merekomendasikan beberapa hal untuk segera ditindaklanjuti.

“Pertama, untuk memenuhi keinginan seluruh pengurus yang ada di daerah agar IWO segera menjadi konstituen Dewan Pers, itu segera kita wujudkan dalam tiga bulan ke depan. Kedua, kita akan mendorong revisi UU Pers no 40 tahun 1999, karena memang sudah tidak relevan dengan kemajuan dunia Pers saat ini sebab kita sudah memasuki era Pers digital.” kata Jodhi Yudono usai menutup Rakernas ke 1 IWO, Selasa (12/3/2019).

“Diakhir kata Saya dan seluruh pengurus pusat (PP) mengucapkan terima kasih kepada semua Pengurus dan anggota IWO dari seluruh Indonesia, atas semangat dan kekompakannya, Jaya IWO” kata Jodhi. (IWO)

Menerima Semua Jenis Pemasangan Iklan