Kamis, 18 Agustus 2016

Philipus Nahaya

Nasip Kampus dan Mahasiswa STKIP Pamane Talino Landak Yang Menjadi Sorotan Publik Dan Lembaga



Landak (Sorot Post)- Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan (STKIP) Pamane Talino (Pata) di kecamatan Ngabang Kabupaten Landak belum mewisuda satupun mahasiswanya.

Dalam dengar pendapat dengan Ketua STKIP Pata Ngabang yang berlangsung Rabu (9/8) pekan lalu, Ketua Komisi C DPRD Landak, Cahya Tanus mempertanyakan belum diwisudanya angkatan pertama mahasiswa STKIP Pata Ngabang.



“Kemudian, saya juga mendapat laporan dipersulitnya ketika mahasiswa dalam mengajukan judul skripsinya. Selanjutnya, mahasiswa angkatan pertama ini masih dipungut uang semesteran,” ujar Cahya Tanus.

Sementara itu menjawab pertanyaan dari Komisi C DPRD Landak tersebut, Ketua STKIP Pata Ngabang, Heri Husodo mengatakan, terkait belum diwisudanya mahasiswa angkatan pertama, pelaksanaan wisuda di STKIP Pata Ngabang dilakukan setahun dua kali yakni, pada periode Juni dan Desember. periode wisuda.

“Mahasiswa yang akan diwisuda harus memenuhi beberapa persyaratan yakni, sudah memenuhi tahapan pelaksanaan Tridarma Perguruan Tinggi. Kemudian, mahasiswa yang akan diwisuda telah lunas biaya administrasi spt SPP , SKS dan lain-lain,” jelasnya.

Diakuinya, memang banyak mahasiswa di STKIP Pata belum memenuhi persyaratan tersebut.

“Mahasiswa kita juga belum skripsi,” ucapnya.

Heri Husodo juga tidak bisa memastikan berapa jumlah mahasiswa STKIP Pata Ngabang angkatan pertama yang masih tersisa ketika ditanya anggota Komisi C DPRD Landak. Padahal sebelumnya, jumlah mahasiswa angkatan pertama di STKIP tersebut berjumlah 1.121 orang.

Bagaimana Jawaban Adrianus Selaku Ketua STKIP Pamane Talino !

Ketua Yayasan Landak Bersatu, Adrianus Asia Sidot meminta masyarakat Kabupaten Landak objektif dalam menilai Sekolah Tinggi Keguruan Ilmu Pendidikan (STKIP) Pamane Talino Ngabang. Jangan, seenaknya menyalahkan pihak lembaga tanpa harus melihat masalah yang ada.

“Saya ingin klarifikasi mengenai STKIP  Pamane Talino yang menjadi isu atau topik di Landak ini. Saya tegaskan, mengapa belum ada mahasiswa yang diwisuda karena belum selesai skripsi,” tegas Adrianus dalam keterangan persnya di Ngabang, Jumat (12/8) pekan lalu.

Menurut Adrianus yang juga Bupati Landak ini, pihak lembaga sudah semaksimal mungkin dan bisa dilihat dosen dalam bekerja menyediakan waktu khusus untuk konsultasi mahasiswa khususnya angkat pertama yang menyeselasaikan tugas akhir.

“Tapi sudah biasa, siapa saja yang pernah kuliah, kalau konsultasi dengan dosen pembimbing ada kesalahan yang harus diperbaiki. Jadi, sekali lagi bukan kesalahan lembaga. Masyarakat melihat harus objektif, jadi jangan berat sebelah dan sentimen dengan saya atau dengan dosen yang ada. Kasihan lembaga yang dengan kerja keras kita bangun,” ungkap Adrianus yang juga Ketua ISKA Kalbar ini.

Adrianus mengaku membangun STKIP mulai awal dengan kemampuannya bahkan berkorban materi tidak menjadi hitungan. Karenn bertujuan mendekatkan lembaga pendidikan kepada masyarakat. Tetapi masyarakat malah tidak menghargainya.

“Salah satu contoh, ada orang tua dayang ke saya minta bantu anaknya mau kuliah di luar Landak. Karena keinginan anaknya, sementara orang tua itu tidak mampu pembiayaan. Nah, sebenarnya  mereka bisa kuliah di STKIP yang sudah kita siapkan,” tegasnya.

Ia menambahkan, untuk angkatan pertama yang masih aktif sebanyak 800 orang mahasiswa, tapi sampai sekarang baru 19 orang selesai. Tentu belum bisa di wisuda. “Kita jadwalkan wisuda Juni lalu sudah lewat, tinggal Desember nanti. Tapi kalau masih saja mahahsiawa tidak lulus, tentu tidak bisa wisuda,” tegasnya.

Diberitakan sebelumnya, Komisi C DPRD Landak memanggil STKIP Pamane Talino yang mempertanyakan mengenai wisuda mahasiswa angkatan pertama yang sudah lima tahun belum ada kejelalasan.

Lantas Siapa-Siapakah Dosen STKIP dan Dari Mana Asalnya!.. Dan Bagaimanakah Status STKIP Landak?

 Ketua Yayasan Landak Bersatu, Adrianus Asia Sidot menyesalkan pernyataan Ketua Dewan Pendidikan Landak Yosep Kilim saat rapat dengan DPRD Landak memabasa STKIP Pamane Talino yang menyatakan dosen dari Jawa semua tidak dari Dayak diberdayakan.

“Saya sangat menyesalkan adanya sikap dari tokoh masyarakat Dayak seperti ketua dewan pendidikan  yang berpikiran rasis, yang menyatakan kenapa dosen STKIP orang dari Jawa semua. Padahal soal pendidikan itu universal tidak membedakan suku, agama dan golongan,” tegas Adrianus dalam keterangan persnya, di Ngabag, Jumat (12/8) kemarin.

Adrianus yang juga Bupati Landak ini menegaskan, dirinya sebagai pembina di STKIP Pamane Talino Ngabang tidak sembarangan mencari dosen dan harus sesuai aturan perundang-undangan yang ada.

“Saya sudah cari kemana-mana dosen dan yang saya utamakan orang dayak tapi mana? orang dayaknya mana?  banyak yang melamar tapi tidak cukup syarat terkait IPK nya. Ada yang baru lulusa S1 melamar, lalu tidak diterima, nah ini mungkin yang bikin isu tentang STKIP,” beber Adrianus.

Adrianus yang juga Ketua ISKA Kalbar ini mengaku jujur yang diutamakan dosen orang dayak, yang lulus S2  yang melamar tidak cukup syarat IPKnya. “Awalnya ditetapkan 3,50 tidak ada, diturunkan 3.0 tidak ada dan diturunkan 2,75 juga tidak ada,” ujarnya.

Ia menegaskan, masyarakat Landak agar berfikir objektif jangan terus menyalahkan lembaga STKIP Pamane Talino. “Kalau ada yang bertanya mengapa dosennya orang muslim semua,  saya juga sudah cari dosen dari lembaga Kristen tapi semua mundur. Jadi kita jangan bicara suku agama, tapi pendidikan universal. Kita hidup di NKRI,” tegasnya.

Adrianus menambahkan, terkait Ijin STKIP Pamane Talino sudah ada ijin operasional  dan akreditasi C sesuai undang-undang

Gedung Baru STKIP Belum Lunas Bayar..


hingga saat ini mahasiswa/i STKIP Pamane Talino (Pata) Ngabang belum bisa mengunakan gedung baru yang terletak di sekitar Komp. BTN Bali Permai Ngabang.

Hal ini, kata Ketua Komisi Tinju Indonesia (KTI) Kalimantan Barat tersebut, dari pihak lembaga baru bisa membayar 1/4 dari utang ke pemilik bangunan.

"Sebagai pembina  saya sudah bayar tapi belum seluruhnya. Cuman dari pihak pemilik belum mau. Bila dia mau menyerahkan pasti kita pakai bangunan itu," kata ayah tiga anak ini.

 Ini artinya, menjadi kerja keras, malah jungkir balik bagi Adrianus mencari dana untuk melunasi sisa yang belum dibayar. "Yah sekitar 6 m anlah,  sudah dibayar dari total 22 m," kata Adruanus.

Adrianus juga berjanji, bagi mahasiswa STKIP Pata yang lulus ujian sripisi, bisa nilai IPK 2,7  akan diberikan beasiswa S2 langsung jadi dosen STKIP.

"Ini bagi lulusan angkatan pertama, catat baik-baik. Saya mencari dosen hanting di Untan tidak dapat. Di jawa juga berapa universitas saya hanting, tidak dapat.  Dosen saya,  pakai kerudung, monggo silakan," tegas Adrianus.(Red.Y)


Philipus Nahaya

About Philipus Nahaya

Author Description here.. Nulla sagittis convallis. Curabitur consequat. Quisque metus enim, venenatis fermentum, mollis in, porta et, nibh. Duis vulputate elit in elit. Mauris dictum libero id justo.

Subscribe to this Blog via Email :