Sabtu, 09 Januari 2016

Philipus Nahaya

Suku Anak Dalam Batanghari Lakukan Unjuk Rasa Sebagai Dukungan Terhadap Kejaksaan Negeri Muara Bulian

Jakarta (Sorot Post)-Ratusan massa terdiri dari Suku Anak Dalam (SAD) dan petani dengan di dampingi SEMBILAN BELAS LSM dan PORWAM (Forum Wartawan Mingguan ) Kab. Batanghari melakukan ujuk rasa menuntut hak mereka atas tanah yang telah di serobot oleh PT Asitic Persada, PT Jamer Tulen dan PT Maju Perkasa Sawit.

Ratusan massa ini melakukan aksi unjuk rasa di depan Kantor DPRD, Kantor Kejaksaan Negeri, Kantor Pengadilan Negeri dan Kantor Bupati Batanghari dari Pukul 10.00 WIB – Pukul 16.00 WIB, Rabu (6/1/2016) .



Dalam aksinya mereka membentangkan spanduk yang bertuliskan usut pelanggaran Hukum bidang kehutanan serta tinjau kembali kasus terbunuhnya Saudara, Puji

Dalam aksi unjuk rasa ini masyarakat Suku Anak Dalam (SAD) dan petani menyembelih seekor kambing di gerbang Kantor Kejaksaan Negeri Muara Bulian Kabupaten Batanghari.
Sebagai bentuk dukungan kepada Kejaksan Negeri Batanghari dalam mengusut kembali kasus terbunuhnya saudara mereka dalam konflik Agraria ini.

Konflik yang terjadi antara masyarakat Suku Anak Dalam (SAD) dan petani dengan perusahaan ini telah berlangsung cukup lama, bahkan dari tahun 1987 sampai dengan 2008 telah terjadi penggusuran paksa dari perusahan ini, dari data yang kami himpun ada (12) dua belas Dusun yang telah di gusur nama-nama dusun tersebut adalah,

1. Dusun Tanah Menang
2. Dusun Padang Salak
3. Dusun Pinang Tinggi
4. Dusun Tani Persada
5. Dusun Marung Tengah/ Bukit Terawang
6. Dusun Minang
7. Dusun Sungai Buaian
8. Dusun Jembatan Besi
9. Dusun Sunggai Beruan

10. Dusun Durian Dangkal
11. Dusun Mentilingan
12. Dusun Kunangan Bawa/Sungai Pacatan

Penggusuran oleh perusahan ini dengan alasan masyarakat Suku Anak Dalam (SAD) dan Petani menduduki (HGU) Hak Guna Usaha Perusahan. Sementara sampai hari  ini belum ada satu pihak pun yang dapat menjelaskan secara hukum dimana letak dan Tapal Batas Objek (HGU) perusahan yang sebenarnya .

Selama konflik lahan ini berlangsung sudah sering terjadi bentrok fisik karyawan dan security perusahaan dengan masyarakat, bahkan sudah menewaskan seorang petani yang bernama Puji Bin Tayat (33) tahun.

Para Lembaga yang mendampingi dan masyarakat yang berkonflik sudah sering melakukan proses mediasi dengan Pemerintah dan pihak perusahaan, sehingga pada tanggal 1 Agustus 2012 telah tercapai kesepakatan dan sangat memungkinkan dapat menyelesaikan konflik secara utuh dan menyeluruh dari pihak masyarakat Suku Anak Dalam dan petani sering melakukan pengawalan-pengawalan terhadap kesepakatan tersebut dengan tujuan agar pihak perusahaan komitment melaksanakan kesepakatan yang ada, bentuk pengawalan yang dilakukan yaitu melalui surat, aksi ke Kantor–kantor Pemerintah, tapi sayang dalam kasus ini Pemerintah terkesan Lamban dalam menangani konflik ini sehinga perambahan hutan terus berlangsung.

Masyarakat Suku Anak Dalam (SAD) dan petani yang berkonflik menggantungkan harapan besar ke pada Aparat Penegak Hukum terutama kepada Kejaksaan Negeri Muara Bulian Kabupaten Batanghari untuk menentukan arah kebijakan yang lebih Arif dan Bijaksana dalam mencari solusi konflik Agraria antara masyarakat Suku Anak Dalam (SAD) dan petani dengan perusahan terkait agar dapat di selesaikan secara Transparan dan Objektib.(PWRI)

Philipus Nahaya

About Philipus Nahaya

Author Description here.. Nulla sagittis convallis. Curabitur consequat. Quisque metus enim, venenatis fermentum, mollis in, porta et, nibh. Duis vulputate elit in elit. Mauris dictum libero id justo.

Subscribe to this Blog via Email :