Pengabdian Guru Ngaji Tanpa Pamrih

Sabtu, 02 April 2016


Kapuas Hulu (Sorot Post)-Sudah kurang lebih selama 30 tahun sejak dari tahun 1985 sampai sekarang, Jamaluddin M.Nuh menjalani profesi sebagai guru ngaji. Dia mengajarkan anak-anak bahkan sampai orang tua dilingkungan rumah tinggalnya jalan Tanjung Pura Kelurahan Kedamin Hulu Kecamatan Putussibau Selatan Kabupaten Kapuas Hulu, agar mampu membaca Al-quran sejak dini dengan benar.


Meski tanpa gajih atau imbalan, Jamaludin selalu semangat dan tidak kenal lelah mengenalkan kitab suci Al-Quran dan ilmu agama kepada muridnya, serta menjalani profesinya dengan tulus, ikhlas dan sungguh-sungguh.Saya sangat prihatin terhadap menurunnya minat anak-anak kita sekarang untuk belajar mengaji," ucap Jamaluddin, saat ditemui dikediamannya Jalan Tanjung Pura Kelurahan Kedamin Hulu Kecamatan Putussibau Selatan Kab Kapuas Hulu.
Hal ini, tambah Utih Udin akrab sapaannya, disebabkan juga karena beberapa faktor, diantaranya perkembangan teknologi sekarang sangat mempengaruhi anak-anak kita sehingga menjadi lupa dan malas.
Faktor orang tua yang terlalu sibuk sehingga kurang mendorong anaknya untuk belajar mengaji. Selain itu kurangnya guru ngaji yang mau mengajar ngaji kalau tidak dibayar atau di gajih, ungkapnya.
Oleh sebab itu, saya merasa tetap terpanggil dan menyisihkan waktu untuk menemani anak-anak belajar mengaji meski dengan segala keterbatasan yang ada, karena banyak dari anak-anak yang mau belajar mengaji tetapi tidak ada kesempatan orang untuk mengajar, mau tidak mau saya tidak bisa juga menolak karena ini juga amanah yang harus saya tetap jalani sampai sekarang walaupun umur saya saat ini sudah 58 tahun, tuturnya.
Dengan jumlah murid 43  orang yang terdiri dari  anak-anak dan 8 orang tua ikut juga belajar mengaji ditempat saya. Itupun banyak dari anak-anak yang datang sendirinya ikut mengaji karena melihat kawannya mengaji. Namun hanya sebagian saja dari orang tua yang mengantar dan langsung membawa anaknya untuk diminta diajarkan mengaji, jelasnya.
"Saya mengajar setiap hari mulai dari masuk shalat magrib, setelah magrib berjamaah baru langsung belajar sampai selesai semua, dan saya dibantu juga oleh anak perempuan saya untuk mengajar anak-anak mengaji," terang utih Udih.
Sekarang sudah sangat langka bagi guru yang mau mengajar tanpa pamrih lagi. Ada beberapa guru ngaji yang mau mengajar tetapi wajib membayar iuran baru bisa ikut mengaji. Bahkan sekarang banyak dari murid yang pindah mengaji ketempat saya karena terbeban dengan biaya atau iuran tadi, karena mayoritas orang tua murid  kita sebagai petani dan swasta, ulasnya.
"Saya bangga dengan menjadi guru ngaji, terutama jika murid saya dapat membaca dan menulis Al-quran dengan baik dan benar. Karena saya tau ini juga amal dan bekal saya di akhirat nanti. Mudah-mudahan pengalaman saya bisa menjadi inspirasi bagi kita semua agar bisa meluangkan waktu untuk bisa mengajar mengaji," tuturnya. (Amrin)

Share this Article on :
 
© Copyright SOROT POST @2018 Oleh Sorot Post News| Design by PHILIPUS NAHAYA | Published by SOROT POST NEWS