Jembatan Tayan Di Beri Nama Pak Kasih,Tokoh Masyarakat Sanggau Berang

Jumat, 01 April 2016

SANGGAU, TAYAN (Sorot Post)-Belum lama ini tokoh masyarakat Kabupaten Sanggau Abdul Muthalib dan Supi’i aktivis LSM  juga menolak penamaan jembatan Tayan dengan sebutan "Jembatan Pak Kasih".Menurutnya, Kabupaten Sanggau yang memiliki 15 Kecamatan memiliki tokoh-tokoh patriotik memperjuangkan tanah air dari rongrongan penjajah tidak ada yang namanya tokoh pejuang Pak Kasih.
Yang ada nama pejuang “Pak Kasih” tersebut cuma ada di daerah kabupaten Landak tepatnya di desa Sidas kecamatan Sengah temila,dan bahkan Makam Pak Kasih tersebut saat ini juga ada di Sidas dan bukan di Tayan.
Tokoh pejuang “Pak Kasih” ini adalah seorang putra Dayak dan kala itu ia ikut berperan penting memperjuangkan tanah air ini dari tangan penjajahan bangsa asing ketika itu,namun sikap patriotisme tinggi dan tidak suka terhadap penjajahan belanda,maka akhirnya ia ikut melawan dengan berbekal sebilah senjata tradisioanl berupa Mandau,hingga pada akhirnya “Pak Kasih” tewas di tangan penjajah di desa sidas.
Mane atau Pak Kasih berasal dari Kampung Pancur, Sengah Temila. Pak Kasih adalah seorang tokoh Dayak Kalimantan Barat yang gigih berjuang menghadapi penjajah Belanda. Bersama dengan Bardan Nadi memimpin serangan-serangan Laskar Gerakan Rakyat Merdeka (GERAM) terhadap Belanda. Laskar ini bahkan tidak segan untuk melakukan berbagai serangan ke tangsi Belanda.
Hal ini lah yang menjadi landasan tokoh-tokoh masyarakat sanggau tidak setuju kalau jembatan tayan di beri nama Jembatan Pak kasih,sementara masih banyak pejuang-pejuang masyarakat tayan yang gugur dalam membela tanah air dari penjajahan belanda ini sebelumnya.Seperti Nama Pangsuma merupakan nama besar di Kabupaten Sanggau, menjadi sebuah goresan sejarah karena Pangsuma merupakan tokoh pahlawan. Meski demikian, nama ini ternyata terdengar asing di telinga masyarakat Kabupaten Sanggau, padahal Pangsuma cukup tenar dan terkenal di Kota Pontianak.
“Seperti tragedi Mandor, banyak tokoh Sanggau yang harus merelakan jiwa dan raganya untuk kemerdekaan, jadi jangan kita menganggap remeh perjuangan mereka,” katanya.
Kendati begitu, Ia menyampaikan ucapan terima kasih atas perjuangan Pemerintah Provinsi Kalbar dan Pemerintah Kabupaten Sanggau yang telah memperjuangankan pembangunan jembatan itu.
“Tetapi selama tokoh-tokoh pejuang Sanggau masih ada, kenapa mesti menggunakan tokoh luar,untuk memberi nama Jembatan tayan  yang memhabiskan uang negara 1 Triliun ini ” ujarnya dengan nada kesal.
Ia berharap, Gubernur Kalbar untuk meninjau ulang pemberian nama jembatan tersebut karena keputusan pemberian nama jembatan “Pak Kasih” tidak meminta pendapat masyarakat Tayan.
Menurutnya, Pemerintah Provinsi seharusnya sebelum memberikan penamaan jembatan tersebut, mengadakan pertemuan dengan mengundang tokoh-tokoh Tayan dan Sanggau. Tujuan pertemuan tersebut adalah menggali aspirasi masyarakat terkait penamaan jembatan.(Sumianto)

Share this Article on :
 
© Copyright SOROT POST @2018 Oleh Sorot Post News| Design by PHILIPUS NAHAYA | Published by SOROT POST NEWS