Iklan Hari Pahlawan nasional 10 Nov 2018

Daun Purik Merupakan Komoditi Unggulan Masyarakat Kapuas Hulu

Senin, 21 Maret 2016

Kapuas Hulu (Sorot Post)-Ditengah merosotnya harga karet dan tandan buah segar Kelapa Sawit, muncul komoditi baru yang menjanjikan bagi masyarakat Kapuas Hulu. Komoditi tersebut adalah daun purik atau Kratom Borneo.
Anggota Komisi B DPRD Kabupaten Kapuas Hulu, Hairudin,S.Pd mengatakan, dirinya sempat membahas daun purik dengan Dinas Perkebunan dan Kehutanan Kabupaten Kapuas Hulu. Daun tersebut memiliki harga cukup tinggi dipasaran saat ini. Oleh sebab itu, jika dikembangkan di masyarakat bisa jadi salah satu komoditi unggulan, katanya, Selasa (8/3).
"Kami pernah pertanyakan kepada Dinas terkait masalah daun purik. Ini bisa menjadi salah satu andalan ekonomi masyarakat kita untuk beralih dari karet, ucapnya.
Hanya saja, kata Hairudin, agar daun purik bisa menjadi komoditi yang jelas tentunya perlu legalitas hukum. Untuk itu kami dari Komisi B akan mengundang dinas terkait untuk membahas masalah landasan hukum untuk dapat memayunginya, ungkapnyaungkapnya.


Kalau bisa kita bahas untuk membuat Perda (Peraturan Daerah) nya. "Itu bisa jadi Pendapatan Asli Daerah (PAD) cukup besar kedepannya, apalagi daun Purik kabarnya menjadi bahan ekspor ke luar negeri. Jadi rugi kalau tidak ada upaya dari pemerintah," terang Hairudin.
Sementara itu Ketua Kontak Tani Nelayan Andalan Kabupaten Kapuas Hulu, H.Mukhsin,S.Ag menambahkan, daun purik perlu didorong untuk mengganti komoditi utama lokal. Namun pemerintah harus komitmen mendukungnya.
"Kalau memang sudah jelas aturannya dari Perda, tentu pemerintah bisa mendorong bantuan kepada kelompok petani purik itu sendiri," tuturnya.
Akan tetapi perlu juga kejelasan terkait purik. Sebab menurut Mukhsin, ada isu-isu zat yang terkandung pada purik bisa membuat kecanduan.
"Isu zat adikatif itu perlu dicek. Kabarnya sudah diperiksa dan tidak ada masalah," ungkapnya.
Sementara itu Jamaludin, warga Kedamin Hulu yang sudah membudidayakan daun purik mengatakan, bahwa sekarang sudah banyak masyarakat yang mulai menanam purik. "Saya saja sudah dua tahun ini menanam pohon purik sekitar 3 ribu batang, dengan luas sekitar 1 hektar," tuturnya.
Lima bulan dari mulai tanam sudah bisa kita panen, khususnya tanah daerah pantai. Karena tanaman ini memang cocok daerah pantai, katanya.  
Dia juga mengatakan bahwa harganya cukup bervariatif, jika daun purik segar yang baru habis dipetik harganya Rp8 sampai 10 ribu per kilo. Sedangkan kalau sudah dikeringkan dan dihaluskan mencapai Rp.25 ribu sampai Rp.30 ribu per kilo, ujarnya saat ditemui di kediamannya jalan Tanjung Pura Kelurahan Kedamin Hulu Kecamatan Putussibau Selatan, Kamis (10/3).
Utih Udin akrap sapaannya, mengaku belum tau pasti terkait manfaat daun purik, sebab belum ada penjelasan ilmiah dari dinas terkait menyangkut hal ini.
Manfaat menanam pohon ini juga sangat besar. Selain daunnya yang punya nilai ekonomis, juga sebagai penghijauan khususnya daerah pantai sungai. Karena jelas Jamaludin, kita ketahui sekarang sudah banyak pohon kayu hutan yang ditebang terutama sepanjang pantai sungai, sehingga secara tidak langsung kita sudah melakukan reboisasi dan penghijauan untuk mengurangi abrasi sungai dengan menanam pohon purik ini. "Selain itu batangnyapun kalau diameternya sudah besar bisa untuk bahan komoditi alat-alat rumah tangga dan bangunan, pungkasnya. (Amrin)

Share this Article on :
 
© Copyright SOROT POST @2018 Oleh Sorot Post News| Design by PHILIPUS NAHAYA | Published by SOROT POST NEWS