Anak Usia 9 Tahun Mengalami Penyakit Aneh

Rabu, 02 Desember 2015

Bengkayang (Sorot Post)- Program Pemerintah RI untuk terus meningkatkan derajat kesehatan bagi masyarakat masih jauh dari harapan. Beberapa program kesehatan gratis yang dijanjikan tidak menyentuh semua orang. Begitu pun dengan program yang dibuat oleh pemerintah, seperti Askes, BPJS, Jamkesmas, dan Jamkesda ternyata tidak menyentuh semua orang di negeri ini. Karena, jelas ada beberapa faktor yang menjadi kendala realisasi di lapangan. Salah satunya adalah faktor kemiskinan. Sepertinya orang miskin dilarang sakit.
Seperti yang dialami oleh Jeri Saputra, kelahiran Sentagi Dalam, 12 Desember 2006 lalu, anak usia 9 tahun ini menderita penyakit aneh. Karena terbelelenggu oleh kemiskinan, untuk hidup sehat jauh dari harapannya.


Jeri, anak pasangan Stepanus Apan (40) dan Lisawati Angit (35) berada di Dusun Sentagi Dalam RT 02/RW 01, Desa Bani Amas, Kecamatan Bengkayang, Kota Bengkayang, menderita sakit aneh sejak usianya 8 bulan. Tak terbayang sudah menderita sakit selama 8 tahun 4 bulan, sungguh menyiksanya.
Kedua orangtua Jeri tak berdaya. Karena, sudah malang-melintang membawa putra mereka untuk berobat ke dukun, puskesmas, mantra, dan rumah sakit, bahkan rumah sakit elite di Kuching Borneo Medical Centre. Namun, hingga kini juga belum ada tanda-tanda penyakit Jeri Saputra akan sembuh.
Ketika dijumpai di rumahnya yang mungil, tepat 1 Km dari Kantor Camat Bengkayang, bocah berusia 9 tahun itu sedang asik bermain bersama anak sebayanya. Di tengah tawa candanya yang terlihat agak dipaksakan, jeri dipeluk erat ibunya, Angit.
Di rumahnya, bocah berusia 9 tahun namun beratnya hanya 13 kg dan tingginya tak lebih dari 110 cm itu kondisinya terlihat sangat buruk. Tubuhnya yang kurus itu tak bisa menyembunyikan penderitaannya. Kuku di jari kaki dan tangannya membengkak, matanya cekung, perutnya membengkak, dadanya membusung, gusinya meleleh, dan giginya menghitam akibat serangan penyakitnya yang aneh. Meski menurut dugaan sementara RS Borneo Medical Centre Kuching Jeri menderita penyakit kelainan jantung.
Sungguh tak berbayangkan, si kecil Jeri tersiksa penyakit aneh yang belum ada obatnya. “Ia lahir dalam keadaan baik. Bidan yang menolong kelahirannya adalah Bidan Ningsih, seorang bidan di RSUD Bengkayang,” keluh Angit, ibu enam orang anak ini.
Sayangnya lagi, Lisawati Angit mengaku belum memiliki BPJS Kesehatan. Ia dan suaminya mengaku tidak tahu harus mengurusnya bagaimana. Selain itu, penghasilannya pun tak lebih dari Rp20 ribu per hari dari hasil sadapan menoreh karet plus gaji upahan bekerja di sawah dan ladang tetangganya.
Namun, hati Stepanus Apan dan Lisawati Angit cukup lega setelah beberapa waktu lalu tanpa sengaja bertemu dengan seorang pengusaha Bengkayang, Dermawan Edison yang biasa dikenal dengan nama Akong.
Akong, ketika ditemui, bercerita cukup panjang. Menurut lelaki berkepala plontos itu pertemuannya dengan orangtua Jeri Sapuptra juga tidak diduga. Sepulang dari kebunnya di perjalanan, ia bertemu Jeri Saputra, bersama Apan, yang jalannya terlihat sedikit aneh dan terganggu tepat beberapa langkah berjalan di hadapannya.
Ia melihat sepertinya Jeri Saputra tiba-tiba membungkuk yang dipapah oleh ayahnya, ternyata penyakit kelainan yang diderita Jeri saat itu sedang kumat. Tanpa dikomando, Edison ikut singgah melihat keadaan di depannya yang sepertinya sedang terjadi sesuatu.
“Ada apa, Pak?” tanyanya memulai pembicaraan.
Apan menjawab seadanya. Ia bercerita anaknya sedang kambuh penyakitnya. Bersama Edison, lelaki itu berjalan bersama menuju kediamannya di Sentagi Dalam.
Atas kejadian itu, maka dengan inisiatif sendiri pada 20 November 2015 lalu Edison membawa dan mengajak serta Jeri Saputra bersama orangtuanya untuk berobat ke RS Borneo Medical Centre di Kuching Sarawak, Malaysia Timur.
Setelah melewati jalan panjang sekitar 3 jam tiba di rumah sakit megah di Kuching dan langsung diperiksa. Ternyata berdasarkan hasil pemeriksaan Jeri Saputra harus diobati dan cepat mendapatkan pertolongan dengan dioperasi yang menurut seorang dokter di RS Borneo Medical Centre hanya bisa dilakukan di RS Kuala Lumpur, RS Harapan Kita Jakarta, atau salah satu RS di India.
Kini orangtua Jeri hanya bisa pasrah. Setelah melakukan pengecekan dan bertanya dari beberapa sumber bahwa perlu biaya sekitar Rp200 juta untuk bisa menyembuhkan penyakit anaknya. Sedangkan, kondisi keluarga itu cari makan sehari untuk sehari.
“Tentunya, perlu ada solusi dari Pemerintah Kabupaten Bengkayang. Karena, Jeri Saputra masih punya harapan banyak ke depan sebagai anak, di sekolah ia juga pintar dan baru duduk di kelas 2 Sekolah Dasar Negeri 2 Bengkayang,” ujar Edison.
Dia khawatir jika virus yang diderita Jeri Saputra yang merontokkan seluruh gusinya, jatuh dan tertelan atau masuk ke paru, maka sudah dipastikan akan membahayakan keadaan Jeri Saputra,” ucap Edison menuturkan saran seorang dokter spesialis di RS Borneo Medical Centre Kuching.
Edison mendesak Pemkab Bengkayang untuk bertindak. “Setahu saya karena program kesehatan gratis, ada beragam seperti BPJS. Diharapkan Kepala Desa Bani Amas, Camat Bengkayang, juga dinas terkait bisa melakukan pertolongan dengan menyediakan program yang dapat membantu Jeri Saputra untuk sembuh dari penyakitnya,” harapnya.
“Yang jelas, kita sebaiknya berupaya bersama. Penyakit yang dialami Jeri Saputra sangat langka. Memang sepintas sepertinya ada gangguan di jantung, paru-paru atau di dalam badannya, namun hasil pemeriksaan dokter belum bisa dipastikan sebenarnya itu punya apa,” ucap Edison mengakhiri perbincangan. (Red)

Share this Article on :
 
© Copyright SOROT POST @2018 Oleh Sorot Post News| Design by PHILIPUS NAHAYA | Published by SOROT POST NEWS