Antara Demokrasi dan Terorisme

Selasa, 24 November 2015

Seorang pelajar di Virginia, Amerika Serikat, terancam hukuman 15 tahun penjara karena dianggap bersalah telah memberikan bantuan material untuk kelompok Negara Islam di Irak dan Suriah.
Bantuan "material" yang dimaksud berupa 7.000 cuitan di Twitter yang berisi pesan mendukung Negara Islam di Irak dan Suriah (NIIS). Melalui akun Twitternya, Ali Shukri Amin, nama remaja 17 tahun itu, menggalang dukungan dan sumbangan dana untuk NIIS. Untuk menghindari deteksi intelijen, sumbangan diberikan dalam bentuk pembayaran virtual bitcoin dan pembicaraan dilakukan dalam bentuk kode daring.
Teknologi, seperti wajah Janus. Wajah depannya sama persis dengan muka belakangnya. Teknologi bukan sekadar perkara baik atau buruk, diterima atau ditolak. Dalam dirinya, teknologi membawa ambiguitas. Tidak ada arah tunggal dalam kemajuan teknologi (Karlina Supelli, 2013). Problem ambiguitas inilah yang kini terjadi dalam politik Timur Tengah. Media sosial, produk teranyar teknologi komunikasi daninformasi, menampilkan wajah Janus: sebagai instrumen demokrasi dan alat tindak terorisme.
Mungkin ini fenomena yang oleh Jacques Derrida ditafsir sebagai simtom krisis otoimunitas dalam realitas modernitas. Ketika fundamentalisme justru menggunakan instrumen demokrasi untuk menusuk demokrasi itu sendiri: ketika konservatisme justru memanipulasi produk modernitas sebagai alat mencapai tujuannya. Bisa juga ini relevan dengan tesis Habermas bahwa modernitas menyimpan problem otodestruksi, sebagai efek penuhanan pada absoluditas rasionalisme yang tak lain hanyalah irasionalitas dalam wajah yang baru (Giovanna Borradori: 2004).
Kini, media sosial yang di satu sisi menjadi ruang publik baru bagi demokratisasi, pada sisi yang bertolak belakang justru digunakan oleh para teroris NIIS sebagai senjata antidemokrasi. Media sosial menjadi Frankeinstein yang memburu tuannya. Teror di Paris, Perancis, adalah contoh terbaru, yang masih terus dibayangi dengan ancaman teror selanjutnya di negara lain.
"Musim semi" Arab
Pada fenomena "musim semi" Arab, 2011, media sosial berkontribusi sebagai instrumen demokrasi. Seminggu sebelum Hosni Mubarak mengundurkan diri, total grafik tweets dari Mesir dan seluruh dunia yang menyuarakan perubahan politik naik tajam dari 2.300 per hari jadi 230.000 per hari. Video berisi protes politik ditonton hampir 5,5 juta orang. Begitu pun di Tunisia, aktivitas di blog yang menyuarakan penurunan Ben Ali naik pesat menjadi 20 persen dari sebelumnya hanya 5 persen. "Rapat umum" di dunia maya intensif dilakukan setiap hari oleh ratusan ribu netizen. (washington.edu, 12/9/2011). Media sosial jadi ruang "steril represi politik", tempat para aktivis mendiseminasikan gagasan revolusinya. Fenomena "musim semi" Arab membuktikan wajah demokratis media sosial.
Namun, celakanya ada satu wajah lain yang kontradiktif dari media sosial: terorisme! Gerakan terorisme makin akrab menggunakan media sosial sebagai instrumennya. Penetrasi NIIS di media sosial tambah masif. Oleh NIIS, media sosial digunakan sebagai, pertama, sarana untuk menyosialisasikan dan mendiseminasikan ideologi ekstremismenya ke seluruh dunia.
Kedua, sebagai alat komunikasi antara anggota dan simpatisan NIIS. Karena bersifat maya dan penuh simbolisme, media sosial memberikan keleluasaan tak terbatas kepada NIIS untuk terhindar dari "penciuman" intelijen. Mereka tak perlu kontak fisik untuk berkomunikasi.
Ketiga, sebagai alat publikasi aksi teror-terornya. Mereka menebar video teror di media sosial. Efek duplikasinya lebih dahsyat dari media konvensional.
Keempat, NIIS menggunakan media sosial sebagai sarana mengonter isu negatif tentang kelompoknya. Lewat media sosial, dari pusat gerakannya di Suriah dan Irak, secara gratis NIIS dengan leluasa menebarkan justifikasi teologis dan politisnya. Tanpa media sosial, keleluasaan ini sulit didapat.
Kelima, ini yang berbahaya, NIIS menggunakan media sosial sebagai sarana perekrutan anggota. Shukri Amin satu contoh. Banyak remaja di AS, Eropa, Australia, dan Asia "terpapar" virus ideologiNIIS lewat media sosial.
Menurut Aaron Zelin, peneliti dari Washington Institute, model perekrutan ini terdiri atas dua tahap. Pertama, berupa perbincangan di media sosial yang sifatnya lebih umum. Tahap kedua, ditindaklanjuti dengan komunikasi intensif di aplikasi khusus percakapan yang lebih privat, seperti Kik, WhatsApp, dan Skype. Di tahap kedua ini, indoktrinasi sudah lebih intensif, fokus, dan mendekati pola cuci otak jarak jauh. Di media sosial, banyak kita temukan video dan buku panduan gerakan NIIS bagi kaum muda yang ingin bergabung.
Penetrasi NIIS di media sosial
Dalam dua tahun terakhir, penetrasi NIIS di media sosial semakin kencang. Penelitian The ISIS Twitter Census: Defining and Describing the Population of ISIS Supporters on Twitter oleh JM Berger dan Jonathon Morgan, menunjukkan lonjakan grafik ini. Pada kuartal terakhir 2014, setidaknya 46.000 akun Twitter yang beroperasi atas nama NIIS. Setiap akun terkait NIIS itu rata- rata 1.000 pengikut. Secara berkala, NIIS diperkirakan menyebarkan lebih dari 100.000 pesan setiap bulan melalui media sosial Facebook dan Twitter. Saat melakukan invasi ke kota Mosul, Irak, terdeteksi NIIS secara aktif mencuit 40.000 pesan tiap hari. Tiga perempat dari akun tersebut menebar pesan kabar dalam bahasa Arab, sementara sisanya menggunakan bahasa Inggris.
Apa solusi ambiguitas ini? Pada akhir 2014, manajemen Twitter mencoba membendung arus NIIS ini dengan menutup ribuan akun yang ditengarai terafiliasi NIIS. Cara ini bukan hanya tak efektif, tetapi mustahil. Media sosial adalah "ruang" tanpa batas dan tanpa identitas. Strategi penutupan akun-akun itu ibarat menggunting air.
Sesaat setelah ditutup, dengan cepat akun-akun pendukung NIIS bermetamorfosis dan beranak-pinak dalam wujud identitas lain pada media sosial yang sama atau berbeda. Bahkan, NIIS menciptakan media sosial sendiri, "Khelafabook", sebagai bentuk perlawanan terhadap kebijakan Twitter dan Facebook. Ini cukup membuktikan mustahilnya membunuh NIIS di ranah digital.
Media sosial masuk ke relung paling privat kehidupan seorang warga negara. Otoritas negara tak mampu masuk sedalam itu. Langkah maksimal yang bisa dilakukan adalah seperti yang dilakukan AS pada Shukri Amin: regulasi dunia maya. Tetapi, apakah dengan cara itu persoalan menjadi selesai? Pertama, seberapa bisa otoritas AS (baca: negara) dapat mendeteksi "Shukri-Shukri" lain yang telah terpapar "virus" media sosial NIIS.
Kedua, seberapa bisa otoritas AS mengatisipasi "Shukri Amin" lainnya yang kini sedang diincar oleh tenaga doktriner dan rekrutmen NIIS. Ketiga, sejauh mana otoritas AS dapat mendeteksi pola metamorfosa gerakan NIIS di media sosial. Keempat, seberapa cepat otoritas AS dapat mengimbangi kecepatan penetrasi NIIS di media sosial dengan langkah pencegahan dan penindakan.
Tak ada obat penawar bagi sisi negatif dan destruktif media sosial selain kekuatan diri individu itu sendiri. Di domain inilah negara dapat berperan: membangun paradigma dan karakter diri warga negaranya, sehingga tidak terjerembab pada ekstremisme, radikalisme, dan terorisme.

Share this Article on :
 
© Copyright SOROT POST @2018 Oleh Sorot Post News| Design by PHILIPUS NAHAYA | Published by SOROT POST NEWS