SMK Temon dan SMK Maarif Tawuran Akibat Salah Paham

Minggu, 25 Oktober 2015



KULONPROGO (SOROT POST) - Karena diindikasikan melakukan tawuran kuat, 24 siswa SMK Temon diamankan petugas dari POlres Kulonprogo. para siswa ini berencana menyerang SMK Maarif karena sebelumnya ada rekan satu sekolah mereka yang dianiaya hingga tangannya mengalami retak.



 Enggar P seorang siswa SMK 1 Temon mengatakan bahwa ada sekitar 100 siswa yang akan mendatangi SMK 1 Maarif Wates. mereka ingin menyelesaikan masalah yang terjadi pada jumat 23 Oktober 2015 dimana siswa SMK Temon dianiaya.

“Kita hanya ngaruhke (konfirmasi), kenapa sampai melukai dan merusak motor teman-teman,” katanya, beberapa waktu lalu.
Enggar mengaku, membawa banyak teman untuk mengantisipasi jika terjadi keributan. Menurut Enggar, mereka berinisiatif datang untuk menyelesaikan permasalahan dengan jalan damai.

Robin seorang korban penganiayaan mengaku tidak tahu permasalahan yang menyebabkan dirinya dianiaya dan dilempar batu oleh siswa SMK 1 Maarif. 

Rohim bercerita, sepulang sekolah, dia pulang bersama seorang rekannya dan berpapasan dengan siswa SMK Maarif di daerah Josutan yang jumlahnya sekira 20 motor. Tanpa sebab, dia dilempari batu hingga tangan kirinya retak dan harus dirawat medis.

“Hanya papasan terus dilempar sampai tangan saya sakit dan ada teman lain yang juga terluka,” tuturnya.
Wakil Kepala Skeolah Bagian Kesiswaan SMK Temon, Yajid Ahmad mengaku, tidak tahu pokok permasalahan. Sejak pagi, dia melaporkan kasus penganiayaan yang menimpa tiga orang siswanya termasuk Rohim. Dimana, sesuai pertemuan sebelumnya yang difasilitasi Polres sudah ada kesepakatan. Ketika terjadi masalah akan diproses dengan hukum.

“Anak-anak ini sebenarnya sudah pulang lebih awal, tidak tahu malah mereka ditangkap,”jelasnya.
SMK Temon kata dia, siap melakukan pertemuan dengan pihak SMK Maarif agar permasalahan bisa selesai dan tidak berbuntut panjang. Para siswa juga sudah kerap diberikan pemahaman, agar bisa menjaga diri.

Sementara, Kepala SMK Maarif Wates Rahmat Raharjo mengatakan, antara kedua sekolah memang pernah berselisih sekitar dua atau tiga tahun lalu. Namun, masalah sudah selesai setelah dimediasi polisi dan Dinas Pendidikan Kabupaten Kulonprogo. Apalagi siswa yang bermasalah saat itu juga sudah lulus.
“Kita juga siap untuk bertemu dan berkoordinasi lagi,” tuturnya.

Share this Article on :
 
© Copyright SOROT POST @2018 Oleh Sorot Post News| Design by PHILIPUS NAHAYA | Published by SOROT POST NEWS