Menuju Indonesia Mandiri lewat Nuklir

Minggu, 25 Oktober 2015


Nuklir, teknologi tinggi yang lahir dari reaksi inti atom bisa dimanfaatkan dalam berbagai hal, bukan sebagai senjata. Di Indonesia, sejak 1954 sudah tercetus ide pengembangan dan pemanfaatan nuklir untuk kemanusiaan. Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN) berperan aktif untuk penelitian, pengembangan, dan pemanfaatan nuklir di Indonesia.




Setahun pemerintahan Presiden Joko Widodo, BATAN berjalan sesuai NawaCita keenam, yaitu meningkatkan produktivitas rakyat dan daya saing di pasar internasional sehingga bangsa Indonesia bisa maju dan bangkit bersama bangsa-bangsa Asia lainnya. “Aplikasi nuklir di berbagai bidang diharapkan mampu mendorong Indonesia Mandiri,” ungkap Kepala BATAN, Prof. Dr. Djarot S. Wisnubroto.




BATAN mencapai berbagai hasil di berbagai bidang, seperti pangan, kesehatan dan obat-obatan, energi, industri, sumber daya alam, dan lingkungan. “Yang sudah menunjukkan hasilnya di bidang non energi, nuklir untuk pengembangan bidang pangan dan kesehatan. Di bidang energi kami telah melakukan persiapan untuk terwujudnya listrik nuklir,” lanjut Prof. Djarot.




Untuk sumber listrik, Indonesia siap untuk aplikasi Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN). “Kita telah 30 tahun meneliti soal PLTN. Kita paling siap di Asia Tenggara,” ujar Kepala BATAN sejak 2012 ini.




Berdasarkan arahan Presiden Joko Widodo, BATAN membangun Science and Techno Park (STP) di Kabupaten Musi Rawas Sumatera Selatan, Kabupaten Klaten Jawa Tengah, dan Kabupaten Polewali Mandar Sulawesi Barat. “STP sebagai pusat rujukan bagi petani, pengusaha, maupun mahasiswa dalam mengembangkan produktivitasnya,” tuturnya.




Untuk pertanian, Pusat Aplikasi Isotop dan Radiasi (PAIR) BATAN dengan teknik pemuliaan mutasi radiasi mampu menciptakan benih unggul. “Varietas padi Sidenuk hasil riset BATAN bisa panen 9,1 ton gabah kering giling per hektar. Lebih tinggi dibandingkan varietas padi lainnya,” ujar Menteri Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi, Muhammad Nasir.




“Ada pula benih kedelai unggul dan sorgum sebagai sumber pangan pengganti beras dan bioenergi. Sorgum bisa ditanam di lahan kering seperti di area Nusa Tenggara Timur,” tukas Prof. Djarot. BATAN telah mengembangkan tiga varietas unggul sorgum, yaitu Pahat, Samurai I dan Samurai II




Dalam bidang kesehatan, BATAN telah menerapkan metode radiodiagnostik dan radioterapi untuk penelitian kanker payudara dan kanker prostat dengan kamera gamma. Lainnya, alat periksa fungsi ginjal renograf model Renograf Xp USB dan Renograf Vista USB dengan teknik nuklir berbasis komputer PC dan laptop dengan hasil akurat.




Bank Jaringan Riset BATAN yang terakreditasi Komisi Akreditasi Nasional Pranata Penelitian dan Pengembangan (KAN-PPP) mengembangkan pengawetan jaringan biologi yang disterilkan dengan radiasi gamma. Salah satu hasilnya pengawetan jaringan amnion (selaput plasenta bayi) menjadiAmnion Liofilisasi Steril-Radiasi (ALS) untuk menutup luka seperti luka bakar atau caesar.




Lalu penelitian graf tulang dan berkembang untuk bedah ortopedi pasien kanker tulang dan bedah mulut dan gigi telah diaplikasi di sejumlah rumah sakit di Jakarta, Bandung, Surabaya, dan Padang. Pengembangannya menggunakan metode dari Association of American Tissue BankAssociation of European Tissue Bank, dan International Atomic Anergy Agency (IAEA), serta berpedoman pada CPOB dan BPOM. (*)

Share this Article on :
 
© Copyright SOROT POST @2018 Oleh Sorot Post News| Design by PHILIPUS NAHAYA | Published by SOROT POST NEWS