BIAWAK BORNEO JADI PRIMADONA DI EROPA

Senin, 26 Oktober 2015


PONTIANAK (SOROT POST) - Perdagangan satwa liar secara ilegal masih marak di Indonesia, tak terkecuali di Kalimantan Barat. Tak jarang perdagangan satwa khas ini tembus hingga ke luar negeri. Salah satunya adalah Biawak Borneo atau Biawak tak bertelinga yang baru-baru ini tertangkap akan diselundupkan ke luar negeri oleh seorang warga negara Jerman. Satwa yang memiliki nama latin Lanthanotus borneensis ini disinyalir sangat minati di Eropa dengan harga yang cukup mahal. “Kami menduga di sana laku keras,” ujar Kepala Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Barat, Sustyo Iriono belum lama ini.


Menurut Sustyo, Biawak Borneo merupakan satwa endemik Kalimantan yang memiliki ciri yang sangat khas. Dimana tidak ada lipatan gular, hidung tumpul dan telinga eksternal. Selain ciri tersebut, biawak ini juga memiliki kelopak mata transparan yang lebih rendah daripada hewan lain yang masih sebangsa dengannya. Kulit pada seluruh tubuh biawak tak bertelinga dibenuhi dengan gerigi-gerigi seperti pada buaya. Gerigi ini tersusun secara teratur berbentuk garis mulai dari bagian kepala sampai pada ekor. Warna kulit hewan ini adalah coklat tua pada bagian atas dan berwarna coklat agak muda pada bagian perutnya.

Biawak tak bertelinga memiliki ekor yang cukup panjang.  Ekor hewan ini juuga terdapat gerigi seperti buaya. Hewan yang mirip biawak ini memiliki empat kaki yang terletak di depan dan belakang.  Setiap kaki hewan ini terdapat lima jari kaki. Biawak ini juga disebut dengan fosil hidup karena hewan ini ada sejak hewan lain yang sudah punah ada.
Biawak ini pertama kali ditemukan pada tanggal 30 Mei 2008 di bawah sampah daun dekat dengan sungai berbatu di daerah Landak, Kalimantan Barat. Satwa ini memiliki ukuran panjang antara 42 hingga 55 cm, badan dan ekor berbentuk silinder. Kaki hewan tersebut termasuk memiliki ukuran yang pendek dilengkapi dengan kuku yang tajam. “Berdasarkan status perlindungannya, reptile ini dilindungi berdasarkan Peraturan Pemerintah No. 7 tahun 1999 tentang Pengawetan Tumbuhan dan Satwa Liar,” lanjut Sustyo.
Namun, tambah Sustyo, kemungkinan besar satwa endemic ini dapat ditangkarkan. Sehingga habitat satwa tersebut masih dapat terjaga. “Kemungkinan ini bisa ditangkarkan. Seperti halnya ikan arwana. Dengan begitu, habitat satwa ini akan tetap terjaga,” tambahnya Selain Biawak Borneo atau biawak tak bertelinga, yang tak kalah seksi dan diminati di luar negeri adalah Pasak Bumi, liur Walet dan Gaharu. “Karena tidak adanya regulasi tentang standar tarif, maka sering kali banyak dimanfaatkan oleh oknum,” terangnya.
Contoh lain, adalah paruh burung Enggang Gading. Paruh burung langka yang menjadi mascot dan lambang Kalimantan Barat diduga kuat sangat diminati di negara Tiongkok. Bahkan seorang penadah disebut-sebut berani membayar mahal satu paruh burung Enggang Gading berkualitas tinggi.
Belum lama ini, Satuan Polisi Hutan Reaksi Cepat (Sporc) Brigade Bekantan_BKSDA Kalbar menangkap dua pelaku penyelundupan bagian satwa dilindungi berupa paruh burung enggang gading dan gigi taring beruang.  Keduanya adalah JMD dan AND. Mereka ditangkap di dua lokasi yang berbeda. JMD ditangkap di sebuah kios perhiasan batu di kompleks Terminal Nanga Pinoh, Kabupaten Melawi, Senin (1/9/2015).  Dari tangan JMD, petugas menemukan 4 paruh burung enggang gading. Selain itu, petugas juga mengamankan hasil olahan paruh enggang berbentuk bola kecil yang sudah dirangkai menjadi gelang.
Hasil penyelidikan terhadap JMD, barang tersebut kemudian disalurkan kepada seseorang di Pontianak. Berbekal informasi tersebut, petugas kemudian melakukan pengembangan dan berhasil mengamankan pelaku lainnya yaitu AND di rumahnya di kompleks Perum Tiga, Tanjung Hulu, Pontianak, Rabu (2/9/2015).
Dari tangan pelaku AND, petugas menemukan satu buah paruh enggang dan 21 taring beruang. Selain itu, juga diamankan sebuah timbangan dan buku catatan transaksi. Pelaku yang ditangkap tersebut merupakan dua dari lima nama yang masuk dalam daftar target operasi Sporc. Pengintaian terhadap para pelaku pun sudah dilakukan sejak pengungkapan besar-besaran senilai milyaran rupiah pada tahun 2013 silam.
Kepala BKSDA Kalbar Sustyo Iriono menjelaskan, modus yang digunakan pelaku saat ini berbeda dengan hasil pengungkapan kasus yang sama sebelumnya. Jika sebelumnya bagian satwa dilindungi tersebut disimpan atau ditimbun terlebih dahulu sebelum dipasarkan, saat ini pelaku langsung mengirim dalam jumlah kecil. “Jadi sekarang mereka langsung jual dalam jumlah kecil, enggak disimpan lagi seperti sebelumnya,” kata Sustyo.
Dalam peredaran jaringan distribusinya, bagian satwa dilindungi tersebut dari Kabupaten Melawi dijual ke Pontianak, kemudian ke Jakarta dan langsung ke negara Tiongkok. Tinggi nya harga jual menjadikan satwa tersebut menjadi salah satu hewan yang paling diburu.  “Target kita bisa memutuskan mata rantai jaringan sindikat bagian satwa dilindungi tersebut” ujar Sustyo.
Pada tahun sebelumnya, 2012, BKSDA Kalbar juga mengamankan Dua wanita asal negara Republik Rakyat Tiongkok. Keduanya berinisial Zjm (39) dan SXY (39). Mereka kedapatan berusaha menyelundupkan paruh Burung Enggang Gading ke luar negeri melalui Bandara Supadio Pontianak
Kepala burung langka ini diyakini memiliki khasiat tertentu. Harga persatu kepala burung Enggang dihargai Rp. 2,5 juta. Karena harganya yang mahal banyak warga pedalaman berlomba berburu burung tersebut dihutan, mereka tidak segan membunuh burung hampir punah ini karena hanya ingin mendapatkan Rp.2,5 juta.
Pada tahun 2013, petugas keamanan bandara Aviation Security (Avsec) PT Angkasa Pura II Bandara Soekarno Hatta juga menggalkan penyelundupan ekspor paruh burung Enggang Gading sebanyak 248 Pcs dan Sisik Trenggiling Sebanyak 189 Keping Di Bandara Soekarno Hatta. Bagian dari satwa dilindungi itu dibawa oleh 4 (empat) orang warga negara Tiongkok yang kemudian diketahui berinisial YZ; LZ; WQ; LB yang akan berangkat ke luar negeri yang membawa barang berupa paruh burung. (arf)


Disadur dari sumber berita : Kompas.com

Share this Article on :
 
© Copyright SOROT POST @2018 Oleh Sorot Post News| Design by PHILIPUS NAHAYA | Published by SOROT POST NEWS